Matamata.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak mengubah ambang batas defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meski menargetkan ekspansi ekonomi yang lebih tinggi, Kemenkeu memilih fokus pada optimalisasi ruang fiskal dan daya tarik investasi.
“Saya akan fokus di angka 3 persen dan mengoptimalkan ruang yang ada untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat,” ujar Purbaya usai menghadiri acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa strategi disiplin fiskal ini telah terbukti efektif. Meski sempat diragukan, menjaga defisit di bawah 3 persen mampu mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen pada kuartal IV 2025. Capaian ini dinilai sebagai titik balik Indonesia keluar dari stagnasi pertumbuhan di level 5 persen.
Ke depan, Menkeu optimistis kinerja ekonomi akan semakin solid melalui sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter yang harmonis. Selain itu, pemerintah sedang mempercepat proses debottlenecking atau penguraian hambatan aturan guna memperbaiki iklim investasi.
“Pemerintah memperkuat mesin pertumbuhan, baik dari sektor swasta maupun pemerintah. Kami meyakini tambahan ruang fiskal tidak diperlukan karena ada indikasi investor besar akan masuk dalam waktu dekat,” imbuhnya.
Menanggapi target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Purbaya menyatakan tetap akan melakukan evaluasi jika memang dibutuhkan ruang fiskal tambahan. Namun, untuk saat ini, kebijakan stimulus atau kontra-siklikal tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku.
“Saat ini tidak ada niat untuk menembus atau mengevaluasi perubahan batas 3 persen tersebut,” tegas Purbaya.
Sebagai informasi, realisasi sementara APBN 2025 mencatat defisit sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari PDB per 31 Desember 2025. Angka ini memang melebar dari target awal 2,53 persen, namun tetap terjaga di bawah batas aman undang-undang.
Purbaya memproyeksikan momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat pada 2025 akan berlanjut. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi diprediksi berada di kisaran 5,5 persen hingga 6 persen. Berdasarkan Leading Economic Index (LEI), Indonesia diyakini memasuki fase ekspansi sehat hingga tahun 2033. (Antara)
Berita Terkait
-
BGN: Makan Bergizi Gratis Disalurkan Sesuai Hari Sekolah, Libur Dihentikan
-
Menkeu Tambah Penempatan Dana SAL Rp100 Triliun, Perbankan Lebih Fleksibel Salurkan Kredit
-
Kemenko Perekonomian: Fundamental Ekonomi RI Tangguh Hadapi Gejolak Global
-
Menkeu Buka Peluang Defisit APBN 2026 Melebar di Atas 3 Persen
-
Menkeu Waspadai Dampak Konflik AS-Iran, Siapkan APBN Jadi Penahan Kejut
Terpopuler
-
Poppy Sovia dan Lolox Bintangi Film 'Tiba-Tiba Setan', Padukan Horor dan Komedi
-
RI-Jepang Perkuat Diplomasi Hijau Melalui Kerja Sama Konservasi Komodo
-
Presiden Prabowo Gelar Pasar Murah di Monas Sore Ini, Ada 100 Ribu Kupon Belanja Gratis
-
Zulhas Pastikan Ketahanan Pangan RI Tak Terpengaruh Konflik Timur Tengah
-
Mentan Amran: Hilirisasi Kunci Indonesia Jadi Negara Kuat dan Mandiri Energi
Terkini
-
RI-Jepang Perkuat Diplomasi Hijau Melalui Kerja Sama Konservasi Komodo
-
Presiden Prabowo Gelar Pasar Murah di Monas Sore Ini, Ada 100 Ribu Kupon Belanja Gratis
-
Zulhas Pastikan Ketahanan Pangan RI Tak Terpengaruh Konflik Timur Tengah
-
Mentan Amran: Hilirisasi Kunci Indonesia Jadi Negara Kuat dan Mandiri Energi
-
KPK Larang Penggunaan Kendaraan Dinas untuk Mudik 2026: Itu Benturan Kepentingan!