Elara | MataMata.com
Warga mengantre untuk mengambil bantuan air bersih sumbangan masyarakat Indonesia yang disalurkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Gaza, Palestina. ANTARA/HO-Baznas RI.

Matamata.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras terkait krisis pasokan medis yang kian kritis di Jalur Gaza. Keterbatasan akses masuk dan penutupan pintu perbatasan menyebabkan stok obat-obatan hingga peralatan bedah dasar kini dilaporkan hampir habis.

Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, mengungkapkan bahwa fasilitas kesehatan di Gaza saat ini dalam kondisi yang sangat rapuh. Persediaan bahan dasar medis yang sangat krusial, seperti kain kasa dan jarum suntik, bahkan sudah tidak tersedia.

"Sistem kesehatan di Gaza masih sangat rapuh. Persediaan obat-obatan penting, perlengkapan trauma, hingga peralatan bedah sangat minim. Krisis bahan bakar juga kian mencekik kapasitas operasional rumah sakit yang tersisa," ujar Balkhy dalam keterangannya, Jumat (6/3).

Bantuan Tertahan di Perbatasan Balkhy menjelaskan, meskipun WHO berhasil memasukkan sebagian kecil pasokan medis dan bahan bakar pada Selasa dan Rabu lalu, volume bantuan tersebut jauh dari kata cukup. Saat ini, banyak truk bantuan masih terjebak di Kota El Arish, Mesir, menunggu izin masuk.

Rata-rata truk bantuan yang masuk ke Gaza tidak lebih dari 200 unit per hari. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan fasilitas medis, Gaza memerlukan setidaknya 600 truk setiap hari.

"Tanpa akses kemanusiaan yang konsisten dan penyaluran pasokan yang aman, pasien di Gaza akan terus menghadapi penundaan pengobatan yang mengancam nyawa," tegasnya.

Layanan Vital Terhenti Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa separuh dari 36 rumah sakit di Gaza masih berhenti beroperasi. Rumah sakit yang masih bertahan kini berjuang keras untuk memberikan layanan vital seperti operasi, dialisis (cuci darah), dan perawatan intensif (ICU) di bawah tekanan krisis listrik.

Kondisi diperparah dengan masih ditutupnya Penyeberangan Rafah, yang merupakan titik keluar utama. Akibatnya, operasi evakuasi medis ditangguhkan sepenuhnya. Berdasarkan data WHO, sekitar 18.000 orang, termasuk anak-anak dengan luka parah dan pasien penyakit kronis, kini tertahan dan menunggu evakuasi medis yang tidak pasti.

WHO mendesak agar jalur bantuan segera dibuka lebar dan bahan bakar diizinkan masuk secara berkelanjutan agar rumah sakit tetap bisa menyelamatkan nyawa di tengah konflik yang masih berlangsung. (Antara)

Load More