Matamata.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengembangkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis. Inovasi ini hadir sebagai upaya menyediakan sumber gula alternatif sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal di Indonesia.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan bahwa sorgum dipilih karena fleksibilitasnya. Meski selama ini belum dimanfaatkan optimal, sorgum berpotensi besar sebagai bahan baku pangan hingga energi.
"Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi pemanfaatannya lebih fleksibel. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan," ujar Sandi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (13/4).
Sandi mengakui kandungan gula sorgum (11–15 persen) memang lebih rendah dibanding tebu. Namun, tanaman ini tetap sangat menjanjikan untuk skala petani dan usaha kecil.
Proses Produksi yang Terintegrasi Pengolahan gula semut ini dilakukan melalui rangkaian mesin terintegrasi, mulai dari pemerasan batang hingga pengemasan. Tahap pertama dimulai dengan mesin roller press untuk mengekstraksi nira. Dari 100 kg batang sorgum, rata-rata dihasilkan 20 liter nira, tergantung kondisi lingkungan tanaman.
Selanjutnya, nira diolah melalui dua metode:
Vacuum Evaporator: Menggunakan sistem tertutup dengan suhu rendah (60–70°C) untuk menghasilkan sirup atau gula cair sorgum.
Open Pan Cooker: Digunakan untuk memproduksi gula semut dengan suhu 90–100°C guna mencapai kadar air 5–6 persen hingga terbentuk kristal.
"Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam," tambah Sandi. Setelah dimasak, gula dikeringkan dalam oven dehydrator dan dihaluskan menggunakan mesin crusher hingga menjadi butiran siap kemas.
Salah satu nilai jual teknologi BRIN ini adalah efisiensi energi. Berbeda dengan cara tradisional yang menggunakan kayu bakar, mesin ini menggunakan gas yang lebih hemat dan suhu panasnya mudah dikontrol. Selain itu, material alat sudah menggunakan stainless steel tipe food grade sehingga lebih higienis.
Desain alat yang dibuat modular juga memudahkan mobilitas, sehingga sangat cocok bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau kelompok tani di daerah dengan kapasitas maksimal 30 liter nira per proses.
Tantangan di Sektor Hulu Meski teknologi sudah mumpuni, Sandi menekankan bahwa tantangan terbesar ada pada konsistensi budi daya sorgum. Minat petani masih sangat bergantung pada nilai ekonomi jika dibandingkan dengan jagung atau padi.
BRIN berharap, dengan adanya teknologi yang mampu meningkatkan harga jual produk olahan ini, ekosistem sorgum dari hulu ke hilir dapat terbentuk secara berkelanjutan.
"Jika bahan bakunya tersedia dan industrinya berjalan, maka rantai nilai sorgum ini bisa berkembang pesat," pungkasnya. (Antara)
Berita Terkait
-
BRIN Kembangkan Teknologi Plasma, Produksi Pupuk Nitrogen Jadi Lebih Ramah Lingkungan
-
Mentan Jamin Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil di Tengah Krisis Selat Hormuz
-
Titiek Soeharto: Pembahasan Bulog Jadi Badan Otonom Tunggu Keputusan Pemerintah
-
Wapres Gibran Tinjau NTT Mart, Dorong Hilirisasi Produk Unggulan NTT ke Pasar Global
-
Menkeu Purbaya Usul Ambil Alih PNM dari Danantara, Ingin Hemat Subsidi KUR Rp40 Triliun
Terpopuler
-
Kemensos Kaji Penebalan Bansos 2026 untuk Jaga Daya Beli, Cair Pekan Ketiga April
-
Mendes Yandri Susanto Tegaskan Dana Desa Tidak Dipotong Pusat, Ini Penjelasannya
-
Lebih Efisien dari Tebu? BRIN Ciptakan Mesin Gula Semut Sorgum Khusus UMKM
-
Prabowo ke Rusia, Boyong Bahlil Lahadalia Demi Amankan Pasokan Minyak Nasional
-
Otorita IKN Tegaskan Tidak Ada Rekrutmen Pegawai, Minta Masyarakat Waspada Hoaks
Terkini
-
Kemensos Kaji Penebalan Bansos 2026 untuk Jaga Daya Beli, Cair Pekan Ketiga April
-
Mendes Yandri Susanto Tegaskan Dana Desa Tidak Dipotong Pusat, Ini Penjelasannya
-
Prabowo ke Rusia, Boyong Bahlil Lahadalia Demi Amankan Pasokan Minyak Nasional
-
Otorita IKN Tegaskan Tidak Ada Rekrutmen Pegawai, Minta Masyarakat Waspada Hoaks
-
Lampaui Target! Belanja Masyarakat Awal 2026 Tembus Rp184 Triliun, Sektor Hiburan Laris Manis