Matamata.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia kini tengah menggeser fokus pembangunan ekonomi. Tidak lagi sekadar menjaga stabilitas, pemerintah kini membidik pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (20/4), Purbaya menjelaskan bahwa transformasi ini didorong oleh tiga pilar utama: investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.
“Kami mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi. Ke depan, pertumbuhan Indonesia tidak hanya stabil, tetapi juga lebih produktif, berkelanjutan, terdiversifikasi, dan tangguh,” ujar Menkeu di sela rangkaian agenda IMF-World Bank Spring Meeting di Washington DC, Amerika Serikat.
Purbaya mengklaim kinerja ekonomi nasional saat ini relatif lebih kuat dibandingkan negara-negara anggota G20 dan negara berkembang lainnya. Ketahanan ini dibuktikan dengan pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang tetap terjaga.
Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai shock absorber atau peredam kejut untuk melindungi daya beli masyarakat. Di saat yang sama, pemerintah tetap disiplin menjaga defisit fiskal di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN," tambah Bendahara Negara tersebut.
Dalam forum IMFC Restricted Breakfast Meeting, Purbaya juga menyampaikan optimismenya bahwa ekonomi Indonesia mampu mencetak pertumbuhan di angka 5,4 hingga 6 persen pada 2026, meski di tengah ketegangan global.
Optimisme ini bersandar pada fondasi ekonomi nasional yang kokoh. Sebagai catatan, saat banyak negara mengalami perlambatan, ekonomi Indonesia justru tetap tumbuh 5,11 persen pada 2025. Selain itu, neraca perdagangan per Februari 2026 masih mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS, sekaligus melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Meski indikator makro menunjukkan tren positif, Menkeu menegaskan pemerintah tetap waspada terhadap dinamika global, terutama ketegangan di Timur Tengah yang berisiko mengganggu harga energi dunia.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah memprioritaskan pembentukan bantalan fiskal (fiscal cushion) untuk meredam guncangan harga. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas harga bahan bakar bersubsidi dan melindungi daya beli masyarakat luas. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Menkeu Purbaya Targetkan Penerbitan Panda Bonds 1 Miliar Dolar AS Tahun Ini
-
Danantara: Perdamaian AS-Iran Berdampak Positif Bagi Ekonomi RI dan Stabilitas Fiskal
-
Menkeu Purbaya Kantongi Komitmen Pendanaan 17 Miliar Dolar AS dari AIIB
-
Kejagung Setor Pemulihan Aset Rp1,029 Triliun ke Kemenkeu, Ada dari Eddy Tansil
-
Harga Pertamax Naik Per 10 Juni 2026, Ini Insentif yang Disiapkan Pemerintah
Terpopuler
-
Komunitas Rider Kalisari R2L, Gelar Touring Kebersamaan ke Bogor
-
Ingin Karyanya Lebih Bernyawa, Anggia Novita Optimistis Produseri Soundtrack Film 'Juminten Edan'
-
Pupuk Indonesia Sediakan 6 Mobil Uji Tanah Gratis di Sumatera demi Ketahanan Pangan
-
Sepakat Berkolaborasi! Hard Lights, BEAUZ, dan Solar State, Rilis Lagu 'Mad World'
-
Kuras Emosi! Auzan Noh dan Syakir Daulay Kompak Bintangi Film 'Dua Nafas'
Terkini
-
Pupuk Indonesia Sediakan 6 Mobil Uji Tanah Gratis di Sumatera demi Ketahanan Pangan
-
PDIP Tegaskan Posisi Politik Penyeimbang Pemerintahan Prabowo Subianto
-
Susunan Pemain Turki vs Paraguay Piala Dunia 2026: Arda Guler Starter
-
KPK Pastikan Tak Duplikasi Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis yang Ditangani Kejagung
-
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri Usai Ditangkap, Kuasa Hukum Buka Suara