Matamata.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap seorang Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di Jakarta menunjukkan hasil negatif Hantavirus. WNA tersebut sebelumnya dilaporkan melakukan kontak erat dengan penumpang yang terinfeksi virus tersebut di kapal pesiar MV Hondius.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima notifikasi dari International Health Regulation (IHR) pada 7 Mei 2026. Laporan tersebut menyebutkan seorang pria WNA berinisial KE (60), yang berdomisili di Jakarta Pusat, sempat berada dalam satu penerbangan dengan pasien kasus kedua yang meninggal dunia.
"KE merupakan kontak erat dari kasus kedua dan sempat satu penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg. Meski yang bersangkutan memiliki komorbid hipertensi dan riwayat vaping, hasil laboratorium menyatakan ia negatif Hantavirus," ujar Andi dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Walaupun hasilnya negatif, Andi menegaskan bahwa KE saat ini masih menjalani pemantauan ketat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso. Penyelidikan epidemiologi dan pelacakan riwayat perjalanan telah dilakukan kurang dari 24 jam sejak notifikasi diterima.
"Kondisi pasien saat ini sehat tanpa gejala mengkhawatirkan. Namun, sesuai protokol WHO, kontak erat harus menjalani karantina dan pemantauan aktif setiap hari," lanjutnya. Setelah diperbolehkan pulang, petugas Puskesmas Kecamatan Senen akan tetap memantau kondisi KE secara berkelanjutan.
Waspada Klaster Global Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), klaster Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius mencatatkan tingkat fatalitas (case fatality rate) mencapai 37,5 persen, dengan tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Virus yang teridentifikasi dalam klaster tersebut adalah jenis Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) strain Andes. Jenis ini dikenal sangat berbahaya dan umumnya menular melalui paparan hewan pengerat (rodensia).
"Indonesia sejauh ini belum pernah melaporkan kasus HPS. Sejak 1991, Indonesia hanya mencatat infeksi tipe Haemorhaggic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas. Belum ada laporan kasus penularan dari tikus ke manusia di tanah air hingga saat ini," tutup Andi. (Antara)
Berita Terkait
-
Tolak RPMK Kemenkes, Petani Tembakau dan Cengkeh Minta Perlindungan Pemerintah
-
WHO: Risiko Penularan Hantavirus Rendah, Tak Ada Pembatasan Perjalanan
-
DPR Desak Kemenkes Investigasi Kematian Dokter Internship di Jambi
-
Kemenkes Percepat Sertifikasi Higiene 26 Ribu Dapur Gizi di Seluruh Indonesia
-
Menkes Budi Gunadi Tetapkan Tiga Pilar Transformasi RS Pemerintah Menuju Standar Dunia
Terpopuler
-
Komunitas Rider Kalisari R2L, Gelar Touring Kebersamaan ke Bogor
-
Ingin Karyanya Lebih Bernyawa, Anggia Novita Optimistis Produseri Soundtrack Film 'Juminten Edan'
-
Pupuk Indonesia Sediakan 6 Mobil Uji Tanah Gratis di Sumatera demi Ketahanan Pangan
-
Sepakat Berkolaborasi! Hard Lights, BEAUZ, dan Solar State, Rilis Lagu 'Mad World'
-
Kuras Emosi! Auzan Noh dan Syakir Daulay Kompak Bintangi Film 'Dua Nafas'
Terkini
-
Pupuk Indonesia Sediakan 6 Mobil Uji Tanah Gratis di Sumatera demi Ketahanan Pangan
-
PDIP Tegaskan Posisi Politik Penyeimbang Pemerintahan Prabowo Subianto
-
Susunan Pemain Turki vs Paraguay Piala Dunia 2026: Arda Guler Starter
-
KPK Pastikan Tak Duplikasi Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis yang Ditangani Kejagung
-
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri Usai Ditangkap, Kuasa Hukum Buka Suara