Matamata.com - Mendulang suara dari pemilih muda saat Pemilu 2024 memang terlihat berbeda dari dua periode sebelumnya. Bukan tanpa alasan, teknologi termasuk media sosial, banyak menjadi pilihan pemilih untuk mengetahui kandidat capres-cawapresnya.
Seperti diketahui, kampanye masing-masing paslon masih dilakukan hingga 10 Februari 2024 mendatang. Selain menyambangi masyarakat, para paslon juga bergerilya di Media Sosial.
Tiga paslon sendiri memiliki cara berbeda untuk menarik pemilih yang aktif bermedia sosial. Pengamat Politik Universitas Padjajaran, Ari Ganjar Herdiansah mengatakan bahwa strategi kampanye Pilpres 2024 ini masih unggul dilakukan pasangan Prabowo-Gibran.
"Untuk strategi kampanye, pasangan calon 2 (Prabowo-Gibran) lebih unggul," ujar Ari dikutip, Kamis (28/12/2023).
Membongkar strategi-strategi para paslon, Prabowo-Gibran dianggap unggul mengingat konten yang disajikan adalah konten-konten kreatif yang sederhana dan mudah dipahami para pemilih muda.
Hal ini juga yang memudahkan pemilih mencari sosok Gibran Rakabuming Raka dan juga Prabowo dalam sistem pencarian di media sosial. Di sisi lain, penggunaan hashtag dan juga nama masing-masing paslon hampir terlihat di sejumlah medua sosialnya.
Berbeda dengan paslon Anies-Muhaimin (AMIN). Pasangan nomor urut 1 ini bertopang pada gagasan dan intelektualitas tetapi hanya menjangkau kalangan tertentu seperti akademisi, mahasiswa, pengusaha, dan profesional.
"Kurang diracik dalam konten-konten medsos [media sosial] sehingga kurang mendapatkan atensi luas," katanya.
Tim media sosial Anies Baswedan dan Cak Imin memang tak banyak meracik konten yang dibagikan. Namun beberapa kali juga mengandalkan gimik salah satu scene film Men In Black (MIB) yang dapat melupakan ingatan orang dengan sebuah pena silver.
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, lanjut Ari banyak menyoroti soal aspek hukum. Basis PDI Perjuangan yang cukup besar di Jawa Tengah dimanfaatkan untuk menggunakan jejaring mereka.
Baca Juga
"Pasangan calon nomor urut 3 cenderung mengandalkan basis PDIP dan jejaringnya, tetapi isu-isunya lebih menyoroti aspek hukum atau mengandalkan kekuatan Mahfud," ujar Ari.
Telepas dari strategi kampanye masing-masing paslon, tingkap partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 ini dinilai meningkat dibanding 2019 lalu.
Ari menyebutkan bahwa tingkat partisipasi pemilih pada 2019 lalu mencapai di atas 80 persen. Artinya dengan sasaran pemilih muda dan pemilih yang aktif di media sosial, hal ini tentu meningkatkan partisipasi mereka.
Di sisi lain, para paslon juga menunjuk kelompok anak muda untuk menggelar acara kampanye yang tentu bersifat efek bola salju terhadap lingkungan di seputaran tempat tinggal mereka.
Berita Terkait
-
Gerindra Bantah Isu Budi Djiwandono Perintahkan Awasi Pergerakan Wapres Gibran
-
Hari Lahir Pancasila 2026: Anggota DPR Ajak Gen Z Jaga Persatuan di Era Digital
-
Kemkomdigi Kaji Aturan Wajib Registrasi Akun Media Sosial Menggunakan Nomor Ponsel
-
AS Tetapkan Iran sebagai Ancaman Terbesar di Timur Tengah dalam Strategi Kontraterorisme Terbaru
-
Rupiah Melemah, Prabowo Beri Restu BI Jalankan 7 Jurus Penyelamatan Ini
Terpopuler
-
Tring! by Pegadaian FORESTRA 2026 Umumkan Jajaran Penampil Tahap 2, Merayakan Harmoni Musik dan Alam di Tengah Hutan
-
Menuju Panggung Internasional, Atlet Muda Indonesia Dibina dengan Jangka Panjang
-
Menkeu Purbaya Tambah Penempatan Dana Pemerintah Rp400 Triliun di Bank Himbara
-
ESDM Sempat Tahan Ekspor Batu Bara demi Amankan Listrik PLN
-
Menbud Fadli Zon Sebut Indonesia Masih Kekurangan 7.500 Layar Bioskop
Terkini
-
Menkeu Purbaya Tambah Penempatan Dana Pemerintah Rp400 Triliun di Bank Himbara
-
ESDM Sempat Tahan Ekspor Batu Bara demi Amankan Listrik PLN
-
Menbud Fadli Zon Sebut Indonesia Masih Kekurangan 7.500 Layar Bioskop
-
Mensesneg Prasetyo Hadi Resmi Ditunjuk Jadi Ketua Satgas Mitigasi PHK
-
Pemprov DKI Siapkan Anggaran LPDP Khusus Jakarta Rp100 Miliar untuk Tahun Depan