Matamata.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan dua area pertambangan PT Freeport Indonesia, yakni Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, telah kembali beroperasi setelah sebelumnya tidak terdampak insiden longsor di Grasberg Block Cave (GBC).
“Udah, udah (beroperasi), yang DMLZ sama Big Gossan,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, usai menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Kamis.
Meski sudah beroperasi, Tri menegaskan bahwa kedua tambang tersebut belum kembali berproduksi. Nantinya, ketika proses produksi telah berjalan, hasil tambang akan sepenuhnya diserap oleh smelter Freeport di Gresik, Jawa Timur.
“Iya (diserap sepenuhnya oleh smelter Freeport). Kurang malah (konsentratnya), kurang,” kata Tri menambahkan.
Berdasarkan data PT Freeport Indonesia, rata-rata produksi bijih perusahaan pada 2024 mencapai 208.356 ton per hari, yang terdiri atas tembaga, emas, dan perak. Dari total tersebut, produksi GBC menyumbang sekitar 133.800 ton per hari, DMLZ 64.900 ton, dan Big Gossan 8.000 ton per hari. Dengan demikian, kontribusi GBC mencapai sekitar 64 persen dari total kapasitas produksi Freeport.
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyampaikan bahwa smelter Freeport di Gresik sempat tidak beroperasi akibat terhentinya pasokan konsentrat sejak terjadinya longsor di area tambang bawah tanah GBC, Tembagapura, Papua Tengah, pada 8 September 2025.
Akibat peristiwa tersebut, Freeport menghentikan seluruh aktivitas tambang untuk memfokuskan upaya evakuasi tujuh pekerja yang terjebak. Proses pencarian berlangsung hingga 6 Oktober 2025, saat seluruh korban berhasil ditemukan.
“Mudah-mudahan kami bisa segera beroperasi walaupun tidak dalam kapasitas penuh, supaya bisa ada konsentrat yang kami produksi untuk dikirim ke smelter-smelter,” ujar Tony.
Tony menambahkan, perusahaan saat ini fokus melakukan restorasi tambang pasca-evakuasi dan akan segera menghitung dampak penurunan produksi akibat penghentian operasional selama lebih dari sebulan. (Antara)
Berita Terkait
-
Menkeu: Pembentukan BUMN Baru oleh Danantara Lebih Untung ketimbang Investasi Obligasi
-
Indonesia 'Guncang' Pasar Global, Harga Timah Tembus 50 Ribu Dolar AS Usai Tambang Ilegal Disikat
-
Dari London, Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Lingkungan
-
Pemkab Bogor Siapkan Skema Transisi untuk Buka Kembali Aktivitas Tambang Secara Terbatas
-
Buntut Pernyataan Soal Konsesi Tambang NU-Muhammadiyah, Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polisi
Terpopuler
-
Dukung Makan Bergizi Gratis, Wamenkop Minta Koperasi Pesantren Pasok Kebutuhan Pangan Lokal
-
Kejar Target 372 Unit Layanan Gizi di Kaltim, BGN Bakal Serap 18.600 Tenaga Kerja Lokal
-
Gerbang Rafah Segera Dibuka, PBB Berharap Bantuan Kargo Bisa Segera Masuk Gaza
-
Coret Pejabat Tinggi, Menteri Haji: Petugas Haji Daerah Maksimal Eselon IV Agar Fokus Melayani
-
Menkes Budi Gunadi Tinjau RSUD Maba, Pastikan Kesiapan Layanan Kesehatan di Halmahera Timur
Terkini
-
Dukung Makan Bergizi Gratis, Wamenkop Minta Koperasi Pesantren Pasok Kebutuhan Pangan Lokal
-
Kejar Target 372 Unit Layanan Gizi di Kaltim, BGN Bakal Serap 18.600 Tenaga Kerja Lokal
-
Gerbang Rafah Segera Dibuka, PBB Berharap Bantuan Kargo Bisa Segera Masuk Gaza
-
Coret Pejabat Tinggi, Menteri Haji: Petugas Haji Daerah Maksimal Eselon IV Agar Fokus Melayani
-
Menkes Budi Gunadi Tinjau RSUD Maba, Pastikan Kesiapan Layanan Kesehatan di Halmahera Timur