Matamata.com - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) meresmikan kampung peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu.
Peresmian kampung peramalan tersebut ditandai dengan kegiatan tanam padi dan pemotongan tumpeng bersama jajaran Ditjen Tanaman Pangan dan Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.
Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan RI, Akhmad Musyafak, yang hadir mewakili Direktur Jenderal Tanaman Pangan, menjelaskan bahwa kampung peramalan OPT dirancang untuk memprediksi dan memantau perkembangan populasi organisme pengganggu tanaman.
"Program kampung peramalan ini berkelanjutan dengan tujuan memberikan percontohan penerapan terkait pengamatan, peramalan dan pengendalian OPT jika diperlukan," ujarnya.
Sleman dipilih sebagai satu dari lima daerah percontohan nasional. Wilayah Moyudan dinilai memiliki potensi pertanian yang besar serta memiliki kondisi endemis tikus sehingga relevan untuk penerapan program tersebut.
Musyafak menambahkan bahwa para petani akan mendapatkan pendampingan langsung dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) untuk memahami proses pengamatan, peramalan, hingga pengendalian OPT secara rinci.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kementan dalam memperkuat sektor pertanian lokal melalui pembentukan kampung peramalan OPT.
Ia menilai pengendalian hama masih menjadi isu penting, terutama di kawasan Sleman barat. "Mengingat, sektor pertanian Sleman menjadi salah satu penyangga utama ketahanan pangan di wilayah DIY," katanya.
Menurut Danang, program tersebut sejalan dengan arah pembangunan pertanian modern yang menitikberatkan pada presisi, efisiensi, dan keberlanjutan. "Kami meyakini bahwa dengan adanya kampung peramalan OPT ini, petani Sleman dapat mengambil keputusan yang lebih tepat, lebih cepat dan lebih akurat," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa informasi dari sistem peramalan akan membantu petani menentukan waktu tanam, memilih varietas, serta melakukan pengendalian hama terpadu.
Selain itu, Pemkab Sleman disebut terus mendorong digitalisasi pertanian melalui sistem informasi, sensor lapangan, peningkatan kapasitas penyuluh, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Danang berharap program tersebut dapat diperluas. "Kami berharap kampung peramalan OPT ini tidak hanya berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi dapat menjadi model yang direplikasi di berbagai wilayah lain," katanya. (Antara)
Berita Terkait
-
Kesepakatan Prabowo-Trump: 53 Komoditas Pertanian RI Bebas Tarif Masuk ke AS
-
Mentan Amran Instruksikan BRMP Perkuat Kemandirian Pangan di Timur Indonesia
-
Mendagri Minta Kementan Segera Pulihkan 1.500 Hektare Sawah Tertimbun Lumpur di Aceh
-
Kementan Pastikan Stok Cabai Surplus Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H
-
Dasco Puji Langkah Mentan Geser Anggaran untuk Pemulihan Bencana di Sumatra
Terpopuler
-
Rismon Sianipar Akui Keaslian Ijazah Jokowi, Ajak Roy Suryo Edukasi Terbuka
-
Meutya Hafid Tekan Petinggi Meta: Sidak Kemkomdigi Bukan Sekadar Simbolik
-
Menkeu Buka Peluang Defisit APBN 2026 Melebar di Atas 3 Persen
-
Gibran Peluk Rismon Sianipar di Istana: Kita Saudaraan, Enggak Ada Apa-apa Lagi
-
SCTV, Indosiar, hingga Mentari TV, Hadirkan Program 'Lebaran Idul Fitri Spesial'
Terkini
-
Rismon Sianipar Akui Keaslian Ijazah Jokowi, Ajak Roy Suryo Edukasi Terbuka
-
Meutya Hafid Tekan Petinggi Meta: Sidak Kemkomdigi Bukan Sekadar Simbolik
-
Menkeu Buka Peluang Defisit APBN 2026 Melebar di Atas 3 Persen
-
Gibran Peluk Rismon Sianipar di Istana: Kita Saudaraan, Enggak Ada Apa-apa Lagi
-
KPK Ungkap Modus Gus Alex Intervensi Kebijakan 'Jalur Kilat' Daftar Haji