Matamata.com - Pemerintah akan mengaktifkan perangkat Very Small Aperture Terminal (VSAT), yakni stasiun bumi telekomunikasi berukuran kecil, untuk menghadirkan layanan internet data, suara, hingga video berbasis satelit di ratusan wilayah blank spot di Provinsi Sulawesi Selatan.
"Akhir tahun ini, atau awal tahun depan, Insya Allah akan terpasang tepatnya 211 titik di seluruh Sulawesi Selatan," ujar Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal di Makassar, Kamis.
Meski demikian, ia menegaskan tidak semua wilayah dapat dijangkau teknologi VSAT. Apabila masih terdapat titik yang tidak tersentuh, alternatif teknologi lain akan dipertimbangkan.
"Bisa saja dengan satelit Low Earth Orbit (LEO), hasil lelang pemerintah. Kalau itu sudah menjangkau semuanya, kita tidak perlu lagi perangkat komersil. Tapi selama pemerintah belum bisa menjamin konektivitas publik, kita harus mencari alternatif," katanya.
Syamsu Rizal yang akrab disapa Deng Ical menyampaikan bahwa perangkat Starlink sudah terpasang di lima titik di wilayah kategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), tepatnya di Kabupaten Kepulauan Selayar.
"Untuk luar Selayar, kemungkinan tahun depan bisa juga dipasangkan tergantung perkembangan dan kebutuhan. Intinya, orientasi utama kita adalah konektivitas warga," ucapnya.
Ia menjelaskan, Selayar diprioritaskan karena masih sulit dijangkau jaringan darat dan sangat membutuhkan konektivitas, terutama di area Balai Taman Nasional Taka Bonerate yang masih blank spot meski aktivitas ekonomi dan pariwisata terus berjalan.
Terkait pilihan perangkat yang akan digunakan pada titik-titik selanjutnya, Deng Ical memastikan pemerintah tidak hanya terpaku pada satu jenis teknologi.
"Tidak tertutup kemungkinan nanti ada perangkat komersial lain. Tidak harus satu model. Bisa saja nanti ada program dari Telkom atau kementerian lembaga lain," ujarnya.
Menurutnya, hasil koordinasi dengan sejumlah lembaga penyedia konektivitas seperti BAKTI, Telkom, dan anak perusahaannya menegaskan adanya komitmen berbagi peran agar pemerataan akses internet tetap berjalan.
Mantan Wakil Wali Kota Makassar itu menambahkan, VSAT memang ditujukan untuk mendukung konektivitas wilayah 3T. Namun, tidak semua lokasi bisa langsung dilayani karena terbatasnya infrastruktur pendukung seperti antena, BTS mini, hingga suplai listrik.
"Untuk beberapa lokasi kita membawa Starlink. Starlink ini relatif lebih kuat secara perangkat dan lebih independen. Jadi sambil menunggu kesiapan VSAT di daerah tertentu, kita menggunakan Starlink, karena program bantuannya tidak berbayar selama satu tahun," tutur Deng Ical. (Antara)
Berita Terkait
-
Presiden Iran Perintahkan Pemulihan Internet Total Pasca-Protes Nasional
-
DPR RI Pastikan Stok Beras dan Minyakita di Sumut Aman hingga 5 Bulan ke Depan
-
DPR Dorong Pemerataan Program Kampung Internet untuk Transformasi Digital Desa
-
Kemenhut Gandeng Ahli Hidrometeorologi dan Kayu Usut Kerusakan DAS di Sumut
-
Pemerintah Tambah 280 Unit Starlink untuk Pulihkan Komunikasi di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera
Terpopuler
-
Wapres Gibran Pastikan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Bebas Korupsi
-
RI Impor 90% Bawang Putih, Kementan Targetkan Swasembada dalam 3 Tahun Lewat Strategi Ini
-
Menteri HAM Sebut Kajian Komnas HAM Soal Program Makan Bergizi Gratis Terlalu Dini
-
Kementerian UMKM Tegaskan Pentingnya NIB: Syarat Akses Fasilitas Pemerintah hingga Ekspor
-
KTT Prancis: G7 Sepakat Tambah Bantuan Militer Ukraina dan Sambut Kesepakatan AS-Iran
Terkini
-
Wapres Gibran Pastikan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Bebas Korupsi
-
RI Impor 90% Bawang Putih, Kementan Targetkan Swasembada dalam 3 Tahun Lewat Strategi Ini
-
Menteri HAM Sebut Kajian Komnas HAM Soal Program Makan Bergizi Gratis Terlalu Dini
-
Kementerian UMKM Tegaskan Pentingnya NIB: Syarat Akses Fasilitas Pemerintah hingga Ekspor
-
KTT Prancis: G7 Sepakat Tambah Bantuan Militer Ukraina dan Sambut Kesepakatan AS-Iran