Matamata.com - Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, memberikan peringatan keras bahwa setiap upaya Amerika Serikat (AS) untuk menguasai Greenland secara paksa akan menjadi "lonceng kematian" bagi aliansi militer NATO.
Dalam wawancara dengan Fox News, Rabu (14/1), Rasmussen menegaskan bahwa tindakan sepihak Washington terhadap wilayah otonom Denmark tersebut bakal merusak fondasi aliansi Atlantik Utara.
"Saya tentu tidak berharap demikian karena saya pikir hal tersebut akan menjadi akhir dari NATO," ujar Rasmussen saat merespons pertanyaan mengenai sikap Kopenhagen jika AS melakukan langkah agresif untuk mencaplok Greenland.
Rasmussen baru saja bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, di Washington untuk membahas keamanan Arktika. Meski Denmark memahami kekhawatiran AS di kawasan tersebut, ia menekankan adanya batasan hukum dan moral yang harus dihormati.
"Pada tahun 2026 ini, Anda bisa berdagang dengan orang-orang, tetapi Anda tidak bisa memperdagangkan manusia," tegasnya, merujuk pada perlindungan hak-hak masyarakat pribumi Greenland.
Bantah Pengaruh China Selain menyinggung kedaulatan, Rasmussen membantah keras narasi AS mengenai keberadaan rival geopolitik, khususnya China, di Greenland. Ia memastikan bahwa pengaruh Beijing di wilayah utara tersebut hampir tidak ada.
"Kami tidak melihat adanya kapal perang China di kawasan ini selama satu dekade terakhir. Sama sekali tidak ada investasi China di Greenland," kata Rasmussen.
Ia mengungkapkan bahwa saat menjabat sebagai Perdana Menteri, dirinya telah melakukan "intervensi pribadi" untuk membatalkan proyek infrastruktur China guna mencegah keterlibatan Beijing di wilayah tersebut.
Faktor Kesejahteraan Sosial Terkait opsi penyerahan wilayah atau kemerdekaan, Rasmussen menilai warga Greenland tidak akan mendukung langkah tersebut. Salah satu alasan utamanya adalah ketergantungan pada sistem jaminan sosial Skandinavia yang didanai Denmark.
"Jujur saja, saya pikir AS tidak akan bersedia membiayai sistem jaminan sosial model Skandinavia di Greenland," tambahnya.
Meski tensi meningkat, Rasmussen menyatakan Denmark dan AS telah sepakat membentuk kelompok kerja tingkat tinggi. Tim ini bertugas menjajaki kerja sama di Arktika yang tetap menghargai keutuhan wilayah Denmark, sekaligus menanggapi ambisi Presiden Donald Trump.
Tahun lalu, Denmark telah mengucurkan investasi hampir 8 miliar dolar AS (sekitar Rp125 triliun) di Arktika untuk menjaga kawasan tersebut tetap stabil dan bebas dari ketegangan militer. (Antara)
Berita Terkait
-
China Sebut Situasi Timur Tengah Kritis meski Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang
-
Prabowo Beri Arahan Strategis ke Dudung Abdurachman, Bahas Pertahanan dan Geopolitik Global
-
Konflik Iran AS: China Protes Penyitaan Kapal di Selat Hormuz dan Ancaman Bom Trump
-
MUI Bertemu Dubes Arab Saudi, Tegaskan Indonesia Tolak Segala Bentuk Penjajahan
-
Arab Saudi Tolak Serangan ke Iran, Dubes Faisal Ungkap Dampak Krisis Energi Global
Terpopuler
-
KPK: Lemahnya Kaderisasi Parpol Picu Praktik Mahar Politik dan Korupsi
-
Seskab Teddy dan Dirut KAI Pastikan Proyek Hunian Warga Pinggir Rel Senen Rampung Juni
-
Karakter Kuat Rio Dewanto di Sinetron 'Jejak Duka Diandra', Digandrungi Penonton
-
Kemenkes Percepat Sertifikasi Higiene 26 Ribu Dapur Gizi di Seluruh Indonesia
-
Yusril Ihza Mahendra Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Kritik Tajam Akademisi
Terkini
-
KPK: Lemahnya Kaderisasi Parpol Picu Praktik Mahar Politik dan Korupsi
-
Seskab Teddy dan Dirut KAI Pastikan Proyek Hunian Warga Pinggir Rel Senen Rampung Juni
-
Kemenkes Percepat Sertifikasi Higiene 26 Ribu Dapur Gizi di Seluruh Indonesia
-
Yusril Ihza Mahendra Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Kritik Tajam Akademisi
-
KPK Dorong Reformasi Politik, Serahkan Rekomendasi Tata Kelola Parpol ke Presiden dan DPR