Matamata.com - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk merevitalisasi Museum Situs Pasir Angin di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Langkah ini diambil agar situs bersejarah tersebut semakin relevan dan menarik bagi publik, khususnya generasi muda.
"Ini merupakan situs bersejarah yang ke depan kita harapkan dapat direvitalisasi dan dilengkapi data-data temuannya. Tujuannya agar generasi muda tertarik datang dan belajar sejarah di Pasir Angin," ujar Fadli Zon saat meninjau lokasi di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cibungbulang, Bogor, Sabtu (17/1/2026).
Fadli menjelaskan bahwa Pasir Angin memiliki nilai sejarah yang luar biasa karena menyimpan berbagai lapisan kebudayaan, mulai dari era Neolitik (prasejarah), era Klasik, hingga masa kolonial.
"Kita bisa melihat berbagai lapis peradaban di sini. Banyak temuan mulai dari arca hingga artefak lain. Tempat ini bukan situs yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem sungai Cianten dan Cisadane yang dulunya merupakan pusat kehidupan dan perdagangan," jelasnya.
Salah satu temuan fenomenal dari situs ini adalah topeng emas yang kini disimpan di BRIN Cibinong. Menurut Fadli, artefak tersebut merupakan kunci penting untuk memahami struktur sosial dan kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan tersebut.
Tak hanya prasejarah, Fadli juga meninjau Tugu Jepang yang berada di kawasan yang sama. Tugu ini menandai lokasi pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dan Jepang pada abad ke-20.
"Wilayah ini adalah bukit tertinggi yang digunakan untuk memantau pergerakan tentara pada masa perang. Jadi, cakupan sejarahnya sangat luas, dari ribuan tahun lalu sampai sejarah modern," tambahnya.
Museum Situs Pasir Angin sendiri telah diteliti secara intensif sejak tahun 1970 hingga 1975 oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di bawah pimpinan arkeolog kenamaan R.P. Soejono. Hasil ekskavasi menemukan beragam artefak dari batu, besi, perunggu, obsidian, hingga gerabah.
Pemerintah berharap melalui revitalisasi ini, Museum Pasir Angin tidak hanya sekadar menjadi tempat penyimpanan benda temuan, tetapi bertransformasi menjadi ruang pembelajaran sejarah yang interaktif dan kontekstual bagi masyarakat luas. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Kementerian Kebudayaan Dukung Gelaran Hari Wayang Dunia 2026 di Yogyakarta
-
Menbud Fadli Zon: Imlek Nasional Perdana 2026 Adalah Jembatan Akulturasi Budaya
-
Fadli Zon: MTN Seni Budaya Adalah Fondasi Generasi Emas 2045
-
Kunjungi Probolinggo, Menbud Fadli Zon Dorong Candi Jabung Jadi Pusat Ekosistem Budaya
-
Tempe Dinilai Berpotensi Jadi Alat Gastrodiplomasi Indonesia
Terpopuler
-
Lia Warokka Rayakan Idul Fitri Tahun Ini dengan Penuh Prihatin: Dampak Perang Hambat Ekonomi
-
DPR Desak KPK Jelaskan Detail Perubahan Status Penahanan Yaqut Cholil Qoumas
-
Puncak Arus Balik Lebaran 2026: 283 Ribu Kendaraan Diprediksi Kembali ke Jakarta Hari Ini
-
Menhaj Jamin Keberangkatan Haji 2026 Sesuai Jadwal di Tengah Tensi Geopolitik
-
Konflik Iran-Israel: PM Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Prabowo Dorong Diplomasi
Terkini
-
DPR Desak KPK Jelaskan Detail Perubahan Status Penahanan Yaqut Cholil Qoumas
-
Puncak Arus Balik Lebaran 2026: 283 Ribu Kendaraan Diprediksi Kembali ke Jakarta Hari Ini
-
Menhaj Jamin Keberangkatan Haji 2026 Sesuai Jadwal di Tengah Tensi Geopolitik
-
Konflik Iran-Israel: PM Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Prabowo Dorong Diplomasi
-
KPK Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Masih Jalani Pemeriksaan Kesehatan di RS Bhayangkara