Matamata.com - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat Desa Telang Rejo, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sebagai lumbung pangan nasional.
Kawasan ini dinilai menjadi kunci sukses Indonesia dalam mencapai target swasembada pangan yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Kabupaten Banyuasin baru-baru ini dinobatkan sebagai kabupaten dengan produksi beras peringkat pertama nasional tahun 2025. Prestasi ini diperkuat dengan raihan penghargaan Satya Lencana Wira Karya di bidang pertanian.
"Sebagian besar lumbung pangan di Kabupaten Banyuasin berada di kawasan transmigrasi. Hal ini sejalan dengan amanat Presiden untuk mewujudkan swasembada pangan sesingkat-singkatnya," ujar Viva Yoga saat menghadiri panen raya di Desa Telang Rejo, Selasa (20/1).
Saat ini, produktivitas lahan di wilayah tersebut telah mencapai 8 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Pemerintah menargetkan angka tersebut akan terus ditingkatkan melalui intervensi teknologi dan infrastruktur yang lebih baik.
Sinergi Lintas Sektor dan Bantuan Modal Keberhasilan Banyuasin tidak terlepas dari kolaborasi lintas kementerian.
Kementerian Transmigrasi bersinergi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian ATR/BPN, hingga Kementerian Perhubungan untuk memastikan ekosistem pertanian berjalan hulu ke hilir.
Sebagai langkah konkret, Kementrans menyalurkan bantuan sebesar Rp100 juta untuk pengembangan Koperasi Kelompok Petani Desa Telang Rejo. Selain modal, perbaikan infrastruktur fisik juga menjadi prioritas.
"Kami berencana memulai pembangunan jalan poros serta renovasi infrastruktur kawasan transmigrasi pada tahun 2026. Kami akan terus berkoordinasi dengan Bapak Bupati agar sarana di sini semakin optimal," tambahnya.
Kontribusi 70 Persen Lahan Transmigrasi Bupati Banyuasin, Askolani, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, total produksi padi di wilayahnya menembus angka 1,2 juta ton. Produksi masif ini dihasilkan dari lahan seluas 189 ribu hektare.
"Faktanya, sekitar 70 persen dari total produksi tersebut berasal dari kawasan transmigrasi. Keberhasilan Banyuasin menjadi yang pertama di Indonesia adalah buah kerja keras para transmigran dan dukungan semua kementerian," kata Askolani.
Dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas stok beras nasional, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kesejahteraan para petani di daerah transmigrasi. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Pecah Rekor! Stok Beras Melimpah 12,5 Juta Ton, Indonesia Mulai Ekspor Beras Premium Tahun Ini
-
Indonesia Surplus 0,5 Juta Ton Jagung, Titiek Soeharto: Saatnya Kita Ekspor!
-
Pecah Rekor! Bulog Serap 4,5 Juta Ton Gabah, Indonesia Resmi Swasembada Beras
-
Lampaui Rekor Era Soeharto, Prabowo Anugerahi Bintang Jasa untuk Mentan hingga Petani
-
Kejar Swasembada Beras, Kementan Genjot Optimasi Lahan di 24 Provinsi
Terpopuler
-
Kritik 'Ekonomi Serakah', Presiden Prabowo Paparkan Visi Transformasi RI di Davos
-
Sokong Swasembada Pangan, Wamentrans Dorong Modernisasi Desa Transmigrasi di Banyuasin
-
Tangkis Pernyataan Trump, China Beberkan Data Dominasi Energi Angin Dunia
-
Pidato di WEF Davos, Prabowo Ungkap Rencana Bangun Ribuan Desa Nelayan Modern
-
Prabowo Perkenalkan Danantara di WEF Davos, Kelola Aset US$ 1 Triliun untuk Transformasi Ekonomi
Terkini
-
Kritik 'Ekonomi Serakah', Presiden Prabowo Paparkan Visi Transformasi RI di Davos
-
Tangkis Pernyataan Trump, China Beberkan Data Dominasi Energi Angin Dunia
-
Pidato di WEF Davos, Prabowo Ungkap Rencana Bangun Ribuan Desa Nelayan Modern
-
Prabowo Perkenalkan Danantara di WEF Davos, Kelola Aset US$ 1 Triliun untuk Transformasi Ekonomi
-
Kementerian ESDM Kaji Dampak Pencabutan Izin PLTA Batang Toru oleh Satgas PKH