Matamata.com - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa praktik child grooming bukan sekadar persoalan individu. Menurutnya, manipulasi psikologis oleh pelaku kekerasan seksual terhadap anak ini merupakan permasalahan sosial yang harus ditangani secara kolektif.
"Isu ini menyentuh langsung jantung ketahanan keluarga serta masa depan anak-anak dan remaja kita," ujar Isyana dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/1).
Praktik child grooming kembali menjadi sorotan publik setelah aktris Aurelie Moeremans menerbitkan buku memoar berjudul "Broken Strings". Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan pengalamannya menjadi korban grooming di masa awal kariernya.
Isyana menilai, modus ini sering berlangsung tersembunyi melalui pendekatan emosional dan pembentukan relasi semu. Hal ini membuat pelaku sulit dikenali, bahkan di lingkungan yang dianggap aman seperti rumah, sekolah, maupun komunitas sosial.
"Ini adalah bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak. Tujuannya jelas, untuk mengeksploitasi korban," tegasnya.
Celah dalam Keluarga Berdasarkan data Susenas BPS 2022, jumlah pemuda di Indonesia mencapai 65,82 juta jiwa atau sekitar 24 persen dari total penduduk. Isyana menyebut kelompok usia ini berada pada fase krusial pembentukan karakter sehingga sangat membutuhkan pendampingan keluarga.
Minimnya dialog terbuka dan dukungan emosional dari orang tua disinyalir menjadi celah bagi pelaku untuk masuk. Saat anak merasa kurang perhatian di rumah, mereka cenderung mencari penerimaan dari pihak luar yang mungkin berniat jahat.
Luka Psikologis Jangka Panjang Senada dengan hal tersebut, psikolog Ferlita Sari menekankan bahwa dampak child grooming meninggalkan luka yang sangat mendalam.
"Dampaknya bukan hanya saat kejadian berlangsung. Setelah kasus selesai pun, traumatik itu tetap ada dan bersifat jangka panjang," jelas Ferlita.
Ia mengingatkan bahwa grooming tidak melulu soal penggunaan gawai atau media sosial, melainkan permainan emosi dan kepercayaan. Pelaku membangun kedekatan secara bertahap hingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dijebak dalam pusaran manipulasi. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Presiden Prabowo Beri Atensi Khusus Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT
-
Baznas RI Gandeng Habib Jafar Perluas Layanan Kesehatan Mental Gratis
-
Film Bertaut Rindu: Romansa Remaja di Tengah Kerumitan Luka dan Realita
-
Aurelie Moeremans Tak Kuasa Menahan Tangis Usai Terima Hasil MRI, Cedera Serius Akibat Kecelakaan Terungkap
-
Aurelie Moeremans Pilih Gelar Resepsi Pernikahan di Amerika, Ini Alasan Tak Adakan Acara di Indonesia
Terpopuler
-
Kemendikdasmen: Program Makan Bergizi Gratis Efektif Tingkatkan Fokus Belajar Murid
-
Mendagri: Jalan Nasional di Tiga Provinsi Terdampak Bencana Sumatera 100 Persen Fungsional
-
Mensesneg: Satgas Pemulihan Bencana Tak Punya Batas Waktu, Huntara Dikebut Sebelum Lebaran
-
KAI Layani 813 Ribu Penumpang Selama Libur Panjang Imlek 2026
-
Sinergi Bea Cukai-Polri Bongkar Lab Sabu Jaringan Iran di Sunter, 13 Kg Barang Bukti Disita
Terkini
-
Kemendikdasmen: Program Makan Bergizi Gratis Efektif Tingkatkan Fokus Belajar Murid
-
Mendagri: Jalan Nasional di Tiga Provinsi Terdampak Bencana Sumatera 100 Persen Fungsional
-
Mensesneg: Satgas Pemulihan Bencana Tak Punya Batas Waktu, Huntara Dikebut Sebelum Lebaran
-
KAI Layani 813 Ribu Penumpang Selama Libur Panjang Imlek 2026
-
Sinergi Bea Cukai-Polri Bongkar Lab Sabu Jaringan Iran di Sunter, 13 Kg Barang Bukti Disita