Matamata.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikukuh mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran.
Padahal, laporan terbaru intelijen AS dan Israel menyimpulkan bahwa program nuklir Teheran saat ini tidak menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan Amerika Serikat.
Mengutip laporan khusus The New York Times, Jumat (30/1/2026), pejabat AS dan Eropa mengungkapkan minimnya bukti bahwa Iran telah memulai kembali pengayaan uranium tingkat tinggi.
Enam bulan pasca-serangan AS pada Juni 2025, Teheran juga dilaporkan belum memproduksi rudal baru.
Kondisi ini memicu tanda tanya besar di kalangan diplomatik terkait urgensi ancaman baru yang dilontarkan Washington pekan ini. Sebelumnya, pada Juni 2025, Trump telah memperingatkan bahwa serangan di masa depan akan "semakin parah" jika Iran menolak berdamai.
Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan posisi keras presiden. "Negara pendukung terorisme nomor satu di dunia tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir," tegasnya.
Pengerahan Militer Skala Besar Sebagai bentuk gertakan, Departemen Pertahanan AS telah menghimpun kekuatan militer masif di Timur Tengah.
Satuan tugas ini mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, armada pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, serta puluhan ribu personel tambahan.
Namun, di balik layar, sejumlah pejabat senior AS secara anonim mengakui ketidakpastian dinamika jika eskalasi benar-benar terjadi.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam rapat dengar pendapat dengan Senat, Rabu (28/1), juga mengakui bahwa konsekuensi runtuhnya kepemimpinan Iran masih menjadi "pertanyaan terbuka".
Rubio menyoroti kompleksitas kekuasaan di Teheran yang terbagi antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Kondisi Situs Nuklir Iran Laporan intelijen meyakini cadangan uranium Iran yang terdampak serangan tahun lalu masih terkubur dan sulit dijangkau, sehingga produksi senjata dalam waktu dekat hampir mustahil dilakukan.
Meski demikian, Teheran terpantau terus memperdalam penggalian di situs nuklir dekat Natanz dan Isfahan sebagai langkah antisipasi.
Langkah agresif Trump ini mendapat kritik tajam dari legislator Partai Demokrat. Anggota DPR AS, Jason Crow, menekankan bahwa unjuk kekuatan militer bukanlah solusi jangka panjang.
"Yang dibutuhkan saat ini bukanlah pengerahan senjata, melainkan kesepakatan permanen yang dapat diverifikasi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," ujar Crow. (Antara)
Berita Terkait
-
Meski AS Pangkas Bantuan Luar Negeri, Dana Terumbu Karang Rp588 Miliar Tetap Mengalir ke Indonesia
-
Macron Tegaskan Uni Eropa Tak Ragu Gunakan Instrumen Anti-Paksaan Hadapi Ancaman Tarif AS
-
Panas! China Sebut Kesepakatan Cip AS-Taiwan Langgar Kedaulatan Beijing
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
-
Menlu Iran Ingatkan Trump: Fasilitas Bisa Hancur, Tapi Teknologi Tak Bisa Dibom
Terpopuler
-
Dukung Makan Bergizi Gratis, Wamenkop Minta Koperasi Pesantren Pasok Kebutuhan Pangan Lokal
-
Kejar Target 372 Unit Layanan Gizi di Kaltim, BGN Bakal Serap 18.600 Tenaga Kerja Lokal
-
Gerbang Rafah Segera Dibuka, PBB Berharap Bantuan Kargo Bisa Segera Masuk Gaza
-
Coret Pejabat Tinggi, Menteri Haji: Petugas Haji Daerah Maksimal Eselon IV Agar Fokus Melayani
-
Menkes Budi Gunadi Tinjau RSUD Maba, Pastikan Kesiapan Layanan Kesehatan di Halmahera Timur
Terkini
-
Dukung Makan Bergizi Gratis, Wamenkop Minta Koperasi Pesantren Pasok Kebutuhan Pangan Lokal
-
Kejar Target 372 Unit Layanan Gizi di Kaltim, BGN Bakal Serap 18.600 Tenaga Kerja Lokal
-
Gerbang Rafah Segera Dibuka, PBB Berharap Bantuan Kargo Bisa Segera Masuk Gaza
-
Coret Pejabat Tinggi, Menteri Haji: Petugas Haji Daerah Maksimal Eselon IV Agar Fokus Melayani
-
Menkes Budi Gunadi Tinjau RSUD Maba, Pastikan Kesiapan Layanan Kesehatan di Halmahera Timur