Matamata.com - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa ekonomi kreatif (ekraf) memiliki peran strategis dalam lanskap ekonomi baru Indonesia. Sektor ini tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada keberlanjutan dan inklusivitas jangka panjang.
Dalam acara Yudhoyono Dialogue Forum (YDF) bertema ‘New Economy, New Road to Prosperity’ di Auditorium Museum dan Galeri SBY ANI, Pacitan, Sabtu (7/2/2026), Riefky menyebut kekuatan ekraf Indonesia berakar pada fondasi budaya yang kuat.
“Pada tahun 2011, nomenklatur ekonomi kreatif pertama kali diangkat ke kementerian dengan harapan menjadi mesin baru perekonomian nasional. Kini hal tersebut semakin nyata dengan hadirnya Kementerian Ekraf yang fokus mengembangkan potensi new economy,” ujar Menteri Riefky.
Sinergi Budaya, Teknologi, dan Modal Senada dengan Menekraf, Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar, menilai predikat ekraf sebagai the new engine of growth sangat relevan bagi Indonesia. Berdasarkan penelitian, teknologi memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas sektor kreatif.
“Pengaruh teknologi terhadap output ekraf itu jelas. Namun, untuk semakin mengembangkannya, diperlukan sentuhan kapital (modal) di industri yang sesuai dengan setiap subsektor ekonomi kreatif,” jelas Hermanto dalam sesi diskusi.
Pesan SBY: Belajar dari Kemarin untuk Hari Esok Presiden ke-6 RI sekaligus Chairman The Yudhoyono Institute (TSI), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selaku penyelenggara forum, menyatakan bahwa dialog ini adalah bentuk dukungan pemikiran bagi pemerintah dalam menghadapi transformasi global.
SBY menyoroti tantangan dunia saat ini yang diwarnai disrupsi inovasi, perubahan iklim, dan pergeseran rantai pasok global. Ia mengajak para pengambil kebijakan untuk merumuskan strategi ekonomi yang paling tepat untuk masa depan Indonesia.
“Forum ini bicara yesterday, today, and tomorrow. Saya mengajak kita semua memikirkan kebijakan ekonomi seperti apa yang paling bagus untuk Indonesia berangkat dari pengalaman kita selama ini,” ujar SBY.
YDF 2026 menjadi ruang dialog lintas sektor yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, hingga pembuat kebijakan. Forum ini menyimpulkan bahwa integrasi antara pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan teknologi, dan keberlanjutan lingkungan harus menjadi satu kesatuan strategi pembangunan nasional guna memperkuat ketahanan ekonomi di tengah dinamika global. (Antara)
Berita Terkait
-
Presiden Prabowo Undang Para Mantan Kepala Negara ke Istana Malam Ini, Jokowi Pastikan Hadir
-
Jawa Barat Dominasi Ekraf Nasional, Sumbang Rp310 Triliun dan 6,2 Juta Talenta Kreatif
-
SBY Hadiri Haul ke-9 Haji Mochamad Thohir di Masjid At-Thohir Depok
-
Hari Ekonomi Kreatif Nasional, Kementrian Ekonomi Kreatif dan PFN Gelar Nobar 'Menuju Pelaminan' di Lippo Mall Nusantara
-
Peringati Hari Ekraf Nasional 2025, Irene Umar Gandeng Gekrafs Naraya Berkreasi Seni
Terpopuler
-
KPK: Perusahaan Keluarga Bupati Pekalongan Terima Rp46 Miliar dari Proyek Outsourcing
-
Presiden Prabowo Kirim Surat Duka Cita atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
-
Bapanas Resmi Salurkan Beras SPHP 2026, Targetkan 828 Ribu Ton Hingga Akhir Tahun
-
Mendapat Ancaman Pembunuhan dari OTK, Aktor Syarief Khan Yakin Dugaan Persaingan Bisnis
-
Hadapi Teror 100 Pocong, Leoni dan Samuel Rizal Kewalahan di Film 'Kolong Mayit'
Terkini
-
KPK: Perusahaan Keluarga Bupati Pekalongan Terima Rp46 Miliar dari Proyek Outsourcing
-
Presiden Prabowo Kirim Surat Duka Cita atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei
-
Bapanas Resmi Salurkan Beras SPHP 2026, Targetkan 828 Ribu Ton Hingga Akhir Tahun
-
Kunjungi Rancaekek, Wapres Gibran Ingatkan Etika dan Nalar Kritis dalam Penggunaan AI
-
Prabowo-Gibran Jamu Tokoh Bangsa dan Pemimpin Lintas Generasi di Istana Merdeka