Matamata.com - Dua mantan pejabat tinggi PT Pertamina (Persero), Hari Karyuliarto dan Yenni Andayani, dijadwalkan menjalani sidang pembacaan vonis dalam kasus dugaan korupsi pengadaan gas alam cair (LNG) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (4/5/2026).
Hari Karyuliarto merupakan Direktur Gas Pertamina periode 2012–2014, sementara Yenni Andayani menjabat sebagai Vice President Strategic Planning Business Development di era yang sama. Sidang rencananya dimulai pukul 13.00 WIB di ruang Wirjono Projodikoro 2 dengan dipimpin oleh Hakim Ketua Suwandi.
"Agenda sidang hari ini adalah pembacaan putusan majelis hakim untuk kedua terdakwa," demikian dikutip dari jadwal persidangan PN Jakarta Pusat.
Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut Hari Karyuliarto dengan hukuman 6 tahun 6 bulan penjara. Sedangkan Yenni Andayani dituntut sedikit lebih rendah, yakni 5 tahun 6 bulan penjara. Keduanya juga dibebani denda masing-masing Rp200 juta subsider 80 hari kurungan.
Dalam perkara ini, jaksa meyakini perbuatan kedua terdakwa telah merugikan keuangan negara hingga 113,84 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,77 triliun. Kasus ini bermula dari pengadaan LNG dari Corpus Christi Liquefaction (CCL) LLC di Amerika Serikat pada periode 2011–2021.
Penyimpangan tersebut diduga turut memperkaya mantan Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, senilai Rp1,09 miliar dan 104.016 dolar AS, serta menguntungkan pihak CCL senilai total kerugian negara tersebut.
Dalam dakwaan disebutkan, Hari Karyuliarto berperan dalam memproses pengadaan LNG tanpa menyusun pedoman yang jelas terkait sumber internasional. Sementara itu, Yenni Andayani berperan mengusulkan penandatanganan perjanjian jual beli LNG tanpa didukung kajian ekonomi dan mitigasi risiko yang memadai. Bahkan, saat perjanjian diteken, Pertamina belum memiliki kepastian pembeli (buyer) untuk gas tersebut.
Atas perbuatannya, mereka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Jubir Kementerian ESDM Bantah Narasi Hoaks yang Samakan Pertamax dengan Solar
-
Bikin Mesin Awet, Begini Cara Pertamina Saring Zat Pengotor Cetak BBM Standar Euro 4
-
Pertamina Jamin Stok Pertalite Aman dan Distribusi di SPBU Normal
-
Harga Pertamax Naik Per 10 Juni 2026, Ini Insentif yang Disiapkan Pemerintah
-
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Menko Cak Imin Minta Masyarakat Tetap Tenang
Terpopuler
-
Program B50 Berlaku 1 Juli, Pemerintah Targetkan Bebas Impor Solar dan Hemat Devisa Rp157 Triliun
-
Mentan Sebut 90 Persen Perusahaan Kelapa Sawit Telah Naikkan Harga TBS Petani
-
Mendagri Sebut Pembangunan Huntara Pascabencana Sumatera Capai 97 Persen
-
Wapres Gibran Tinjau Makan Bergizi Gratis di Ende, Soroti Makanan Dingin dan Kelas Gelap
-
Mendag Tegaskan HET Minyakita Tetap Rp15.700 per Liter, Fokus Perkuat Distribusi
Terkini
-
Program B50 Berlaku 1 Juli, Pemerintah Targetkan Bebas Impor Solar dan Hemat Devisa Rp157 Triliun
-
Mentan Sebut 90 Persen Perusahaan Kelapa Sawit Telah Naikkan Harga TBS Petani
-
Mendagri Sebut Pembangunan Huntara Pascabencana Sumatera Capai 97 Persen
-
Wapres Gibran Tinjau Makan Bergizi Gratis di Ende, Soroti Makanan Dingin dan Kelas Gelap
-
Mendag Tegaskan HET Minyakita Tetap Rp15.700 per Liter, Fokus Perkuat Distribusi