Matamata.com - Konser grup band Slank di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) untuk merayakan hari jadi ke-36 dan malam tahun baru dibatalkan promotor.
Menurut keterangan pers yang diterima Suara.com, Kamis (26/12/2019), pembatalan konser tersebut disebabkan karena faktor teknis.
"Karena keadaan yang tidak terduga, alasan teknis, maka kami akan membatalkan pertunjukan konser 'Slanking Forever 36'," ungkap promotor The Ocean Entertaiment.
Kendati demikian, promotor berjanji akan mengembalikan uang pembelian tiket kepada calon penonton.
Sementara itu, saat ditemui dalam peluncuran boxset album 'Slanking Forever', pentolan Slank, Bimbim, enggan menanggapi ihwal batalnya konser tersebut.
"Soal boxset saja dulu (pertanyaannya)," ujar Bimbim.
Seperti diketahui, tiket konser Slank itu dijual dari mulai harga Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta. Tiket mulai bisa dibeli dari 8 Desember 2019. [Herwanto]
Berita Terkait
-
Gibran Rakabuming Apresiasi Konser Amal dan Film Timur untuk Korban Bencana Sumatera
-
Penampilan Ciamik Adrian Khalif di CRSL Land Festival 2025
-
Synchronize Fest 2025 Umumkan Lineup, Siap Digelar Oktober Mendatang
-
Kemenkumham Tegaskan Konser Akademik Bebas dari Penarikan Royalti
-
Ahn Hyo Seop akan Gelar Konser Perdana di Jakarta
Terpopuler
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
-
Menteri PKP Targetkan Pembangunan Ratusan Rusun Subsidi Sepanjang 2026
-
Kemenhaj: Petugas Haji Wajib Berseragam dan Tidak Pakai Ihram saat Puncak Armuzna
-
Kumpulkan 1.200 Rektor, Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan Tanpa Bebani Mahasiswa
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya