Matamata.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan bahwa operasi militer AS di Venezuela baru-baru ini tidak memerlukan persetujuan Kongres. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan operasi penegakan hukum untuk menangkap Nicolas Maduro, bukan sebuah invasi atau pendudukan militer berkepanjangan.
"Ini bukan tindakan yang memerlukan persetujuan Kongres. Operasi ini sangat presisi dan hanya berlangsung beberapa jam. Ini bukan serangan terhadap Venezuela, melainkan penegakan hukum," ujar Rubio dalam wawancara dengan NBC News, Senin (5/1/2026).
Pernyataan ini merespons kritik sejumlah anggota Kongres AS yang menyebut operasi tersebut ilegal karena dilakukan tanpa mandat legislatif.
Penangkapan Maduro dan Eskalasi di Caracas Sebelumnya, pada Sabtu (3/1), Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS telah melancarkan operasi besar yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya dilaporkan telah dibawa keluar dari wilayah Venezuela.
Laporan media menyebutkan adanya ledakan di ibu kota Caracas yang melibatkan unit elit Delta Force AS. The New York Times, mengutip pejabat senior Venezuela, melaporkan sedikitnya 40 orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk personel militer dan warga sipil.
Trump sempat mengunggah foto yang diklaim memperlihatkan Maduro berada di atas kapal perang USS Iwo Jima. Di sisi lain, media AS menyiarkan rekaman pesawat yang mendarat di Negara Bagian New York, yang diduga membawa Maduro di bawah kawalan ketat aparat penegak hukum.
Reaksi Internasional dan Dewan Keamanan PBB Otoritas Venezuela mengaku tidak memiliki informasi pasti mengenai keberadaan pemimpin mereka dan menuntut bukti bahwa Maduro masih hidup.
Kementerian Luar Negeri Venezuela mengecam keras tindakan tersebut dan telah mengajukan pertemuan darurat dengan Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan berlangsung hari ini, 5 Januari.
Sementara itu, Rusia menyatakan keprihatinan mendalam dan solidaritasnya kepada Venezuela. Moskow menyebut tindakan AS sebagai bentuk agresi dan pemindahan paksa yang melanggar hukum internasional.
"Kami menuntut pembebasan segera (Maduro dan istrinya) dan menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Pemerintahan Trump sendiri tetap bersikeras bahwa Maduro adalah target penegakan hukum yang harus segera diadili atas berbagai dakwaan kriminal. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
AS Tetapkan Iran sebagai Ancaman Terbesar di Timur Tengah dalam Strategi Kontraterorisme Terbaru
-
Trump Sebut Iran Mulai Melunak di Tengah Operasi Militer 'Project Freedom'
-
China Sebut Situasi Timur Tengah Kritis meski Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang
-
Konflik Iran AS: China Protes Penyitaan Kapal di Selat Hormuz dan Ancaman Bom Trump
-
Trump Ancam Eskalasi Militer Jika Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir
Terpopuler
-
Film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan Bikin Penonton Jogja Menangis Haru
-
Nadiem Makarim Jalani Sidang Pemeriksaan Terdakwa Kasus Chromebook Jelang Operasi
-
Presiden Prabowo Dijadwalkan Resmikan Operasional 1.000 Kopdes Merah Putih pada 16 Mei
-
Rocky Gerung hingga Rudiantara Pantau Sidang Kasus Korupsi Chromebook Nadiem Makarim
-
Kemenkes: WNA di Jakarta yang Berkontak Erat dengan Pasien Hantavirus Dinyatakan Negatif
Terkini
-
Nadiem Makarim Jalani Sidang Pemeriksaan Terdakwa Kasus Chromebook Jelang Operasi
-
Presiden Prabowo Dijadwalkan Resmikan Operasional 1.000 Kopdes Merah Putih pada 16 Mei
-
Rocky Gerung hingga Rudiantara Pantau Sidang Kasus Korupsi Chromebook Nadiem Makarim
-
Kemenkes: WNA di Jakarta yang Berkontak Erat dengan Pasien Hantavirus Dinyatakan Negatif
-
KSAL: Awak KRI Canopus-936 Rampungkan Pelatihan 7 Bulan di Eropa