Matamata.com - Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak menguat pada perdagangan Senin (12/1), menyusul kabar mengejutkan dari Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump dilaporkan membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa sentimen ini memicu penurunan tajam pada indeks dolar AS (DXY). "Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Kondisi ini membuat dolar AS tertekan, sehingga rupiah berpotensi berbalik menguat," ujar Lukman di Jakarta, Senin.
Intervensi Independensi Bank Sentral Penyelidikan ini berkaitan dengan proyek renovasi gedung kantor pusat Federal Reserve yang bernilai miliaran dolar. Departemen Kehakiman AS dilaporkan telah melayangkan surat panggilan pengadilan kepada The Fed terkait kesaksian Powell di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni lalu.
Dalam pernyataan resminya, Powell menyebut langkah pemerintah tersebut sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para pelaku pasar menilai upaya ini sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap independensi bank sentral AS.
"Pasar bereaksi besar terhadap isu independensi ini. Namun, investor perlu waspada karena pergerakan bisa sangat fluktuatif (volatile) di kedua arah," tambah Lukman.
Data Ekonomi AS Masih Solid Meskipun dolar tertekan oleh isu politik, data ekonomi AS terpantau masih cukup tangguh. Tingkat pengangguran AS pada Desember 2025 turun menjadi 4,4 persen, lebih rendah dari estimasi pasar sebesar 4,5 persen. Selain itu, izin pembangunan perumahan melonjak menjadi 1,41 juta, melampaui ekspektasi 1,35 juta.
Tingkat kepercayaan konsumen AS juga tercatat menguat di level 54, lebih tinggi dari estimasi awal di angka 53,5. Kuatnya data ekonomi ini diprediksi akan menjadi penahan agar dolar AS tidak merosot terlalu dalam.
Pada pembukaan perdagangan pagi ini di Jakarta, rupiah sempat bergerak melemah 28 poin atau 0,17 persen ke level Rp16.847 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.819 per dolar AS. Namun, seiring masuknya sentimen dari AS, rupiah diharapkan mampu memangkas pelemahan dan berbalik ke zona hijau. (Antara)
Berita Terkait
-
Mensesneg: Istana Proses Persetujuan Pengunduran Diri Tiga Pimpinan OJK
-
Berantas Saham Gorengan, Menkeu Purbaya Siapkan PMK Baru untuk Investasi Dapen
-
IHSG Sempat Anjlok 8,5%, Banggar DPR Ingatkan OJK Jangan Tutup Mata pada Koreksi MSCI
-
Rupiah Menguat ke Rp16.780, Menkeu Sebut Bukan Hanya karena Efek Thomas Djiwandono
-
Macron Tegaskan Uni Eropa Tak Ragu Gunakan Instrumen Anti-Paksaan Hadapi Ancaman Tarif AS
Terpopuler
-
Sambut Lebaran Idul Fitri 1447 H, Musisi Rucky Markiano Luncurkan Lagu 'Dosa'
-
Sukses jadi Intel, Iptu Sukandi Rekam Lagu 'I Love You Bhayangkari' untuk Sang Istri
-
5 Rekomendasi Mesin Cuci Terbaik 2026 yang Hemat Listrik, Baju Kinclong dan Bebas Kuman
-
MK Tolak Permohonan Uji Materi KUHP dan UU ITE yang Diajukan Roy Suryo dkk
-
Pertamina Imbau Masyarakat Tidak Panic Buying, Pastikan Stok BBM Nasional Aman
Terkini
-
MK Tolak Permohonan Uji Materi KUHP dan UU ITE yang Diajukan Roy Suryo dkk
-
Pertamina Imbau Masyarakat Tidak Panic Buying, Pastikan Stok BBM Nasional Aman
-
KPK: Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Pemkab Rejang Lebong Sangat Rentan Korupsi
-
DPR: Wacana KPU Jadi Lembaga Negara Keempat Perlu Kajian Komprehensif
-
Komisi III DPR Sebut Penyiraman Air Keras Andrie Yunus sebagai Kejahatan Terhadap Demokrasi