Matamata.com - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi, mendorong produk unggulan dari kawasan transmigrasi, termasuk melon asal Kabupaten Mesuji, Lampung, agar mampu bersaing di pasar global.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar kementerian untuk mentransformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Viva Yoga menyatakan bahwa Kabupaten Mesuji adalah bukti nyata keberhasilan program transmigrasi yang telah dirintis sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto. Tercatat, program ini telah melahirkan 1.567 desa definitif, 466 kecamatan, dan 116 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
"Saat ini terdapat 154 kawasan transmigrasi dengan karakteristik komoditas unggulan yang beragam. Di Mesuji, selain melon, juga berkembang pisang dan singkong," ujar Viva Yoga saat menghadiri panen raya melon di Desa Tanjung Menang Raya, Mesuji, Jumat (24/1/2026).
Untuk memperkuat posisi tawar petani, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) telah menggandeng sejumlah off-taker melalui nota kesepahaman (MoU). Salah satunya adalah kerja sama pemasaran dengan jaringan ritel ternama, seperti Toko Krisna Bali.
"Kami menggandeng off-taker agar produk petani di kawasan transmigrasi memiliki kepastian pasar. Ini penting untuk meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan," tegasnya.
Hilirisasi dan Ekosistem Ekonomi Lebih lanjut, Viva Yoga menjelaskan bahwa potensi kawasan akan diarahkan pada program hilirisasi berbasis industri. Kementrans berupaya membangun ekosistem ekonomi terintegrasi dengan menarik investor untuk menanamkan modal di kawasan transmigrasi.
"Kita menginginkan pola kerja sama yang memberikan efek domino (trickle down effect) bagi ekonomi rakyat, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," tambahnya.
Tahun ini, Kementrans juga berkomitmen mengucurkan bantuan infrastruktur untuk Mesuji, mulai dari renovasi fasilitas umum, penyediaan air bersih, hingga sarana penunjang produktivitas pertanian lainnya.
Di sisi lain, Bupati Mesuji, Elfianah, mengungkapkan bahwa wilayahnya memiliki potensi besar meskipun didominasi lahan kering dan rawa gambut. Dengan luas lahan sawah mencapai 29.167 hektare, Mesuji saat ini menempati posisi ketiga sebagai penyokong ketahanan pangan di Provinsi Lampung.
"Produktivitas rata-rata kita mencapai 5,1 ton per hektare. Kawasan yang dulunya hutan ini kini telah bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di utara Lampung," pungkas Elfianah. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Sokong Swasembada Pangan, Wamentrans Dorong Modernisasi Desa Transmigrasi di Banyuasin
-
DPR Dukung Strategi Hilirisasi Pertanian Rp371 Triliun untuk Kedaulatan Pangan
-
Pemerintah Bidik Swasembada Gula, Telur, dan Ayam pada 2026 Usai Amankan BerasJagung
-
Wamentrans Dorong Kapal Sitaan untuk Nelayan Transmigran Batam, Bukan Lagi Ditenggelamkan
Terpopuler
-
Kemitraan Strategis dan Diplomasi Gaza: Saat Macron Jamu Prabowo di Istana lyse
-
Semangat Tanpa Batas: Di Usia 61 Tahun, Tatok Hardiyanto Kembali Sumbang Medali untuk Indonesia
-
Wamentrans Dorong Produk Transmigrasi Mesuji Tembus Pasar Global dan Ritel Modern
-
Kritik Film 'Esok Tanpa Ibu': AI Tak Akan Pernah Bisa Gantikan Peran Ibu
-
6 Cara Biar Urusan Pengajuan Pinjaman Cepat Beres, Siapkan Ini Sebelum Chat CS!
Terkini
-
Kemitraan Strategis dan Diplomasi Gaza: Saat Macron Jamu Prabowo di Istana lyse
-
Semangat Tanpa Batas: Di Usia 61 Tahun, Tatok Hardiyanto Kembali Sumbang Medali untuk Indonesia
-
Kritik Film 'Esok Tanpa Ibu': AI Tak Akan Pernah Bisa Gantikan Peran Ibu
-
Eks Menpora Dito Ariotedjo Penuhi Panggilan KPK Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Modernisasi Armada, BRIN Adopsi Teknologi Kapal OceanX untuk Riset Maritim Indonesia