Elara | MataMata.com
Arsip foto - Presiden China Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump saat mereka bertemu di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. (ANTARA FOTO/Xinhua/Huang Jingwen/tom.)

Matamata.com - Presiden China Xi Jinping melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (4/2) malam. Dalam percakapan tersebut, Xi mengirimkan pesan kuat bahwa isu Taiwan tetap menjadi persoalan paling penting dan sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara.

"Taiwan adalah wilayah China. China akan menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta tidak akan membiarkan Taiwan dipisahkan," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China yang diakses di Beijing, Kamis (5/2).

Xi juga mendesak AS untuk bersikap bijaksana, terutama terkait kebijakan penjualan senjata ke Taiwan. Sebelumnya, pada Desember 2025, AS memicu ketegangan setelah menjual peralatan militer senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp183,9 triliun) ke Taiwan.

Visi 2026: APEC dan G20 Meski dibayangi isu Taiwan, Xi Jinping menyatakan apresiasinya terhadap arah hubungan yang telah ditetapkan sejak pertemuan mereka di Busan, Oktober 2025 lalu.

Ia berharap tahun 2026 menjadi momentum untuk mencapai hal-hal besar, mengingat China akan menjadi tuan rumah APEC dan AS menjadi tuan rumah KTT G20.

"Jika kedua negara bekerja dalam semangat kesetaraan dan saling menghormati, jalan untuk mengatasi perbedaan akan selalu terbuka," ujar Xi.

Respons Trump dan Isu Semikonduktor Donald Trump merespons positif dengan menyebut hubungan AS-China sebagai hubungan bilateral terpenting di dunia. Trump menyatakan rasa hormatnya kepada Xi dan keinginan untuk melihat China sukses di bawah kepemimpinan mereka berdua.

"Saya memiliki hubungan baik dengan Presiden Xi. Kami ingin memperdalam kerja sama dan mencapai lebih banyak kemajuan," kata Trump dalam rilis yang sama.

Meski demikian, dinamika ekonomi tetap membayangi. Belum lama ini, pada Januari 2026, AS mengumumkan kesepakatan dagang besar dengan Taiwan. Kesepakatan tersebut mencakup komitmen investasi manufaktur semikonduktor senilai 250 miliar dolar AS di Amerika.

Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, sebelumnya menyatakan target Washington adalah memindahkan 40 persen rantai pasok dan produksi chip komputer tercanggih dari Taiwan ke wilayah AS.

Hal ini dilakukan demi mengamankan rantai pasok teknologi Amerika dari ketidakpastian geopolitik di Selat Taiwan. (Antara)

Load More