Matamata.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi strategis pemerintah untuk mencetak generasi unggul sekaligus motor penggerak ekonomi desa melalui penguatan sektor pangan nasional.
Amran menyebut MBG bukan sekadar program bantuan, melainkan langkah konkret jangka panjang untuk menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang sehat dan cerdas.
"Ini (MBG) investasi untuk anak cucu kita. MBG ini penggerak ekonomi di desa; menggerakkan sektor hortikultura, sayur-sayuran, hingga peternak ayam dan telur. Semua bergerak dari hulu sampai hilir," ujar Amran dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Bukan Kepentingan Politik Menanggapi kritik yang muncul, Mentan menekankan bahwa program ini murni untuk kepentingan bangsa, bukan didorong oleh kepentingan politik jangka pendek.
Ia memaparkan logika bahwa penerima manfaat program ini—yakni siswa TK hingga SMA—belum memiliki hak pilih pada kontestasi politik terdekat.
"Kalau bicara politik, ini tidak menguntungkan. Anak SD, SMP, SMA belum ikut pemilihan di 2029. Artinya, ini betul-betul gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan generasi muda yang cerdas," tegasnya.
Amran yang mengaku berangkat dari latar belakang ekonomi sulit, memahami betul pentingnya intervensi gizi bagi anak-anak, terutama untuk menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
"Mungkin yang mengkritik tidak pernah merasakan miskin ekstrem. Presiden sangat peduli pada anak-anak kita yang kekurangan gizi dan stunting," imbuhnya.
Multiplier Effect bagi Ekonomi Desa Selain aspek kesehatan, MBG diproyeksikan menciptakan efek domino (multiplier effect) terhadap kesejahteraan masyarakat pedesaan. Amran mencatat ada sekitar 3,8 juta peternak yang akan merasakan dampak langsung dari peningkatan permintaan pasar.
Peningkatan aktivitas ekonomi ini mencakup berbagai sektor, mulai dari peternakan unggas, sapi, kambing, hingga pertanian sayur-mayur. Distribusi dan perdagangan hasil pangan di tingkat lokal pun ikut bergairah, menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung.
"Jadi orang-orang kecil bahagia. Jutaan peternak kita bergerak semua. Ini adalah bentuk keadilan sosial, terutama bagi keluarga kurang mampu yang membutuhkan dukungan nutrisi," pungkas Mentan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Menko Muhaimin: Stok Pangan Nasional di Era Presiden Prabowo Terbesar dalam Sejarah
-
Prabowo Bakal Bangun Pusat Pengolahan Sawit dan Minyak Jelantah Menjadi Avtur
-
Tak Ingin Demokrasi Rusak, Relawan Prabowo: Kritik Boleh, Tapi Jangan Delegitimasi Lewat Jalanan!
-
BGN Jamin Anggaran Makan Bergizi Gratis Transparan, Diawasi Ketat Kemenkeu dan Bappenas
-
Mentan Jamin Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil di Tengah Krisis Selat Hormuz
Terpopuler
-
BRIN Kembangkan Teknologi Plasma, Produksi Pupuk Nitrogen Jadi Lebih Ramah Lingkungan
-
Mentan: Program Makan Bergizi Gratis Adalah Investasi Generasi, Bukan Komoditas Politik
-
KPK Pastikan Layanan Publik dan Pemeriksaan Saksi Tetap Berjalan di Tengah Kebijakan WFH
-
Kemenag Terapkan WFH Setiap Jumat, Menag: Layanan Umat Harus Tetap Prima
-
KPK Serahkan Aset Rampasan Rp3,88 Miliar ke Kementerian PU untuk Proyek Tol
Terkini
-
BRIN Kembangkan Teknologi Plasma, Produksi Pupuk Nitrogen Jadi Lebih Ramah Lingkungan
-
KPK Pastikan Layanan Publik dan Pemeriksaan Saksi Tetap Berjalan di Tengah Kebijakan WFH
-
Kemenag Terapkan WFH Setiap Jumat, Menag: Layanan Umat Harus Tetap Prima
-
KPK Serahkan Aset Rampasan Rp3,88 Miliar ke Kementerian PU untuk Proyek Tol
-
Presiden Prabowo: Kemandirian Energi Fondasi Utama Negara Merdeka