Elara | MataMata.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Wakil Perdana Menteri Republik Belarus Viktor Karankevich (kanan) menandatangani Roadmap of Developing Key Areas of Cooperation between Belarus and Indonesia for 2026-2030 dalam pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-8 RI-Belarus Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik di Minsk, Belarus, Jumat (15/5/2026). ANTARA/Bayu Saputra

Matamata.com - Pemerintah Indonesia dan Belarus resmi menyepakati penyusunan peta jalan (roadmap) kerja sama ekonomi untuk periode 2026–2030. Kesepakatan ini dicapai dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-8 RI-Belarus Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik yang berlangsung di Minsk, Belarus.

Dokumen bertajuk Roadmap of Developing Key Areas of Cooperation between Belarus and Indonesia for 2026-2030 tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Wakil Perdana Menteri Republik Belarus Viktor Karankevich.

"Roadmap tersebut diharapkan menjadi dokumen sistematis dan terukur untuk mengembangkan berbagai kerja sama. Ini akan menjadi salah satu deliverables utama dalam kunjungan Presiden Republik Belarus ke Indonesia," ujar Airlangga dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (15/5).

Airlangga menjelaskan, SKB RI-Belarus berfungsi sebagai payung kerja sama bilateral untuk memberikan manfaat maksimal bagi perkembangan ekonomi kedua negara. Indonesia memandang Belarus sebagai mitra strategis dalam penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, dan pengembangan manufaktur berbasis teknologi.

"Implementasi Indonesia-EAEU FTA (Eurasian Economic Union Free Trade Agreement) diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan," tambah Airlangga.

Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich menyatakan komitmennya untuk memperkuat kemitraan ekonomi ini. Menurutnya, pembentukan Dewan Bisnis Indonesia-Belarus akan membantu penguatan hubungan pelaku usaha kedua negara, terlebih proses ratifikasi Indonesia-EAEU FTA akan segera rampung.

"Kami meyakini bahwa pertemuan ini mampu mengidentifikasi sejumlah kerja sama bilateral utama yang dapat diwujudkan dalam rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia pada awal Juli 2026," kata Karankevich.

Hubungan ekonomi kedua negara saat ini menunjukkan tren positif. Di bidang perdagangan dan investasi, RI-Belarus mencatat lonjakan nilai perdagangan hingga 72,6 persen secara tahunan (yoy) dengan nilai mencapai sekitar 221 juta dolar AS.

Bagi Indonesia, Belarus memiliki potensi strategis sebagai mitra diversifikasi pasar karena basis industri manufakturnya yang kuat di sektor alat berat, pertanian, dan kimia. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan kerja sama melalui skema joint venture, local assembly (perakitan lokal), transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas industri nasional.

Di sektor pertanian, kedua negara membahas potensi mekanisasi dan teknologi pertanian modern guna mendukung produktivitas. Momen ini juga dimanfaatkan Indonesia untuk mendorong peningkatan ekspor produk unggulan seperti karet, kakao, kopi, produk perikanan, serta produk manufaktur ke Belarus dan kawasan Uni Ekonomi Eurasia.

Selain ekonomi dan industri, pertemuan tersebut juga membahas penguatan kerja sama di sektor investasi, kesehatan, pendidikan, riset, budaya, olahraga, hingga pariwisata. (Antara)

Load More