Matamata.com - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut The Palace Museum di kawasan Forbidden City, Beijing, sebagai contoh ideal dalam upaya pelestarian warisan sejarah secara berkelanjutan. Hal ini disampaikan Fadli saat melakukan kunjungan budaya ke Republik Rakyat Tiongkok.
“Kita melihat bagaimana Forbidden City menjadi contoh nyata praktik preservasi dan konservasi yang berjalan terus-menerus. Mereka melakukan perawatan dan renovasi berkali-kali untuk mempertahankan nilai sejarahnya, sembari tetap menghadirkan pengalaman edukatif bagi pengunjung,” ujar Fadli dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (14/7).
Dalam lawatannya, Fadli berdialog langsung dengan Direktur The Palace Museum, Wang Xudong, membahas potensi penguatan kerja sama strategis antar museum, termasuk dengan Museum Nasional Indonesia.
“Kami menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Wang Xudong menyambut baik peluang kerja sama lebih luas. Ia bahkan mendorong adanya pertukaran tenaga ahli, akademisi, dan peneliti antara Indonesia dan Tiongkok di bidang permuseuman. Indonesia juga diundang untuk mengirim profesional museum mengikuti program residensi di The Palace Museum.
The Palace Museum sendiri merupakan salah satu museum istana terbesar dan tertua di dunia. Terletak di jantung Forbidden City yang dibangun sejak 1406 dan rampung pada 1420, kompleks ini dulunya merupakan kediaman resmi kaisar dari Dinasti Ming hingga Dinasti Qing.
Tercatat, museum yang berdiri sejak tahun 1925 ini memiliki lebih dari 1,86 juta koleksi artefak, seperti lukisan klasik, kaligrafi, keramik, hingga arsip kekaisaran. Mayoritas struktur bangunan berbahan dasar kayu, sehingga konservasi berkala menjadi bagian penting dari upaya pelestariannya—termasuk restorasi besar pasca kebakaran di masa Dinasti Qing.
Tahun ini, The Palace Museum merayakan seabad eksistensinya sebagai institusi permuseuman dengan menggelar berbagai pameran tematik, program edukasi, dan perayaan budaya internasional.
Kunjungan budaya tersebut menjadi refleksi penting bagi Indonesia untuk terus mengembangkan fungsi museum sebagai ruang edukatif, pusat narasi sejarah, serta etalase kebudayaan bangsa lintas generasi.
Pemerintah pun menegaskan komitmennya menjadikan museum sebagai pusat pembelajaran sejarah dan budaya yang inklusif dan berkelanjutan. (Antara)
Berita Terkait
-
Menbud Fadli Zon: Iduladha Perkuat Solidaritas Sosial dan Budaya Gotong Royong
-
Menbud Fadli Zon Jajaki Kerja Sama Industri Kreatif dan Perfilman dengan Tiongkok
-
Kemenbud Gelar Lomba Video 'Aku dan Budayaku', Ajak Anak Muda Jadi Duta Budaya Digital
-
Fadli Zon: Kekayaan Budaya Indonesia Potensi Besar Penggerak Ekonomi Kreatif
-
Fadli Zon: UNESCO Resmi Masukkan Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf dalam Agenda Global
Terpopuler
-
Mensesneg Respons Usulan Menteri HAM soal Jabatan Sipil dalam Revisi UU Polri
-
Menkeu Purbaya Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bebani Fiskal Nasional
-
Melalui Lagu 'Aku Bisa', Rucky Markiano Bangkit dari Luka dan Keterpurukan
-
Kunjungan Wisman April 2026 Naik, Devisa RI Tembus Rp68 Triliun
-
John Herdman Bangga Mathew Baker Jadi Debutan Termuda Timnas Indonesia
Terkini
-
Mensesneg Respons Usulan Menteri HAM soal Jabatan Sipil dalam Revisi UU Polri
-
Menkeu Purbaya Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bebani Fiskal Nasional
-
Kunjungan Wisman April 2026 Naik, Devisa RI Tembus Rp68 Triliun
-
John Herdman Bangga Mathew Baker Jadi Debutan Termuda Timnas Indonesia
-
Tumbuh 34 Persen, Belanja Negara Mei 2026 Didorong Program Makan Bergizi Gratis dan Bansos