Matamata.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak mengulangi "kesalahan" konfrontasi militer di masa lalu. Teheran menegaskan tetap membuka pintu diplomasi meskipun tensi kedua negara kembali memuncak.
“Pesan saya, jangan ulangi kesalahan yang Anda buat pada Juni,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan Fox News, Rabu (14/1/2026), merujuk pada serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran saat konflik Iran-Israel tahun lalu.
Araghchi menekankan bahwa kekuatan militer tidak akan mampu menghentikan ambisi nuklir Iran. “Fasilitas bisa dihancurkan, tetapi teknologi tidak bisa dibom. Tekad juga tidak bisa dibom,” tegasnya.
Meski mengaku Iran memiliki rekam jejak hubungan yang buruk dengan Washington, Araghchi menyatakan bahwa jalur perundingan tetap menjadi prioritas. Ia menuding AS kerap meninggalkan meja diplomasi secara sepihak selama dua dekade terakhir.
“Antara perang dan diplomasi, diplomasi jauh lebih baik,” tambahnya.
Klaim Terorisme dalam Protes Domestik Terkait gelombang kerusuhan yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025, Araghchi mengeklaim pemerintah telah menerapkan "penahanan diri maksimal". Ia berdalih bahwa aksi protes tersebut telah dibajak oleh kelompok kekerasan dan "sel teror" yang digerakkan oleh Israel.
“Elemen teroris dari luar menyusup ke tengah protes dan menembaki aparat keamanan. Ini adalah rencana Israel untuk menyeret Presiden AS ke dalam konflik,” klaim Araghchi.
Ia menambahkan bahwa saat ini otoritas Iran telah memegang kendali penuh atas situasi di lapangan.
Perbedaan Data Korban Pernyataan Araghchi ini muncul di tengah kecaman internasional atas penanganan demonstran di Iran. Sebelumnya, Presiden Trump melalui CBS News mengancam akan mengambil “tindakan yang sangat kuat” jika Teheran melakukan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi mengenai jumlah korban. Namun, organisasi hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) memberikan estimasi yang kontras.
HRANA memperkirakan sedikitnya 2.500 orang tewas, termasuk demonstran dan aparat, dengan lebih dari 18.000 orang ditahan sejak kerusuhan pecah akibat krisis ekonomi.
Pihak AS dan Israel sendiri telah membantah tuduhan Iran yang menyebut mereka berada di balik kerusuhan tersebut. (Antara)
Berita Terkait
-
Menlu RI: Evakuasi WNI di Iran Belum Diputuskan, Situasi Terus Dipantau
-
Menhan Sjafrie Kunjungi Pakistan, Bahas Kerja Sama Pendidikan Militer dan Forum JDCC
-
Beijing Tegaskan Isu Taiwan Urusan Dalam Negeri, Respons Klaim Donald Trump
-
Trump Klaim Kuasai Minyak Venezuela, Airlangga: Dampak ke Dunia Tidak Ada!
-
Pasca-Operasi Militer AS, Presiden Interim Venezuela Tetapkan 7 Hari Masa Berkabung
Terpopuler
-
Kumpulkan 1.200 Rektor, Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan Tanpa Bebani Mahasiswa
-
Adegan Ciuman, Fajar Sadboy Bikin Salfok Marsha Aruan di Web Series 'Yang Penting Ada Cinta'
-
Mentan Amran Pastikan Pemulihan Sawah di Aceh Gunakan Skema Padat Karya
-
Menlu Iran Ingatkan Trump: Fasilitas Bisa Hancur, Tapi Teknologi Tak Bisa Dibom
-
KPK Sebut Ketua PBNU Aizzudin Diduga Jadi Perantara Suap Kuota Haji: Hubungkan Biro Travel ke Kemenag.
Terkini
-
Kumpulkan 1.200 Rektor, Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan Tanpa Bebani Mahasiswa
-
Mentan Amran Pastikan Pemulihan Sawah di Aceh Gunakan Skema Padat Karya
-
KPK Sebut Ketua PBNU Aizzudin Diduga Jadi Perantara Suap Kuota Haji: Hubungkan Biro Travel ke Kemenag.
-
Menteri ATR/BPN Libatkan Mahasiswa KKN untuk Kejar Target 6 Juta Sertifikat Tanah
-
KPK Desak Pembenahan Menyeluruh di Ditjen Pajak Usai Kasus Suap KPP Madya Jakut