Matamata.com - Bio One melakukan perjuangan yang totalitas dalam memerankan karakter Gepeng di film Srimulat bukanlah hal yang mudah. Fajar Nugros menceritakan bagaimana proses Bio One melakukan pendalaman karakternya sebagai Gepeng di film Srimulat.
Fajar menyebut bahwa berawal dari kalimat yang diucapkannya, Bio One melakukan pendalaman karakter yang cukup ekstrem.
“Pas film Srimulat, gue telepon. ‘Bi, kayaknya ini saatnya gue menepati janji (buat jadi pemeran utama)’. Katanya, ‘jadi siapa?’ jadi Gepeng. Dia dateng terus nanya, ‘aku harus apa kalau jadi Gepeng?’. Ya coba kamu ngerasain miskin,” kata Fajar Nugros dikutip dari YouTube HAHAHA TV, Jumat, (24/11/2023).
“Nah dari kalimat itu jadi kemana-mana ini anak. Beneran gak makan akhirnya kita panggil ahli gizi di kantor jalan kaki enggak pakai sendal. Lari setiap hari, pergi kemana-mana cuma bawa tas kresek,” sambungnya.
Tak hanya itu saja, Fajar juga menceritakan bahwa Bio One sempat kena razia polisi saat berada di Solo. Hal itu bermula dari Bio One yang menggelandang hingga menyewa hotel Melati.
Penampilan Bio One yang saat itu bertubuh kurus, kepala plontos hingga kulitnya yang menggelap, membuat polisi mengira bahwa Bio One menggunakan narkoba.
“Terus suatu hari waktu aku di Solo, ditelepon sama orang lokasi. ‘Mas ini ada telepon dari polisi. Ada aktormu katanya nginep di hotel Melati. Terus ketangkep polisi yang razia. Dikira narkoba. Karena resepsionisnya tau ini namanya si Bio One tapi kok tinggal di hotel Melati. Ternyata Bio riset, dia menggelandang gitu di Solo,” jelas Fajar.
“Pas didatengin dia lagi duduk di lobi Hotel Melati karena nunggu dijemput. Terus bilang ke polisinya kalau Pak Iya bener ini Bio One. Karena dia kan lagi kurus kering, botak, kulitnya kebakar,” pungkas Fajar Nugros.
Berita Terkait
-
Komisi III DPR Desak Polri Usut Tuntas Peredaran Tramadol di Jakarta Timur
-
Komisi III DPR RI Puji Putusan Hakim PN Batam yang Tak Jatuhkan Vonis Mati pada Fandi
-
Polri Buru Bandar Narkoba 'Boy' dan Kurir Jaringan Koko Erwin, Ini Ciri-cirinya
-
DPR Kritik Tuntutan Mati ABK Sea Dragon: Jangan Jadi Alat Putus Mata Rantai Narkoba
-
Sinergi Bea Cukai-Polri Bongkar Lab Sabu Jaringan Iran di Sunter, 13 Kg Barang Bukti Disita
Terpopuler
-
KPK: Lemahnya Kaderisasi Parpol Picu Praktik Mahar Politik dan Korupsi
-
Seskab Teddy dan Dirut KAI Pastikan Proyek Hunian Warga Pinggir Rel Senen Rampung Juni
-
Karakter Kuat Rio Dewanto di Sinetron 'Jejak Duka Diandra', Digandrungi Penonton
-
Kemenkes Percepat Sertifikasi Higiene 26 Ribu Dapur Gizi di Seluruh Indonesia
-
Yusril Ihza Mahendra Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Kritik Tajam Akademisi
Terkini
-
Pertama di Asia, Daft Funk Live Hadir di Jakarta Jadi Persembahan Tribute Daft Punk
-
"Titip Bunda di Surga-Mu" Bikin Penonton Jogja Menangis, Jadi Pengingat Berharga tentang Keluarga
-
Bandit Tayang Perdana di JAFF 2025: Drama Aksi tentang Pelarian & Balas Dendam
-
Bukan Sekadar Nostalgia: Ini 3 Alasan Setting Film 'Rangga & Cinta' Tetap di Tahun 2000-an
-
LAKON Indonesia Membawa Warisan dan Inovasi ke Panggung Utama Osaka World Expo