Matamata.com - Kehadiran Sekolah Rakyat Margaguna di Jakarta Selatan membawa harapan baru bagi keluarga berpenghasilan rendah. Program pendidikan gratis yang diinisiasi Kementerian Sosial ini dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, termasuk Zulkarnaen, seorang pengemudi ojek daring.
"Saya terbantu dengan adanya Sekolah Rakyat," ujar Zulkarnaen saat ditemui di Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Margaguna, Senin (14/7).
Anak lelaki Zulkarnaen kini menjadi salah satu siswa Sekolah Rakyat. Ia mengaku bersyukur karena sang anak dapat melanjutkan pendidikan, meski sebelumnya gagal masuk sekolah negeri karena keterbatasan nilai dan kuota.
Program ini menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tercatat dalam data kesejahteraan sosial nasional, terutama pada kelompok desil 1 dan 2—pengelompokan rumah tangga berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Tak hanya memberikan akses pendidikan, Sekolah Rakyat juga menyediakan fasilitas asrama dan kebutuhan dasar secara cuma-cuma. Hal ini mendorong anak Zulkarnaen untuk belajar hidup mandiri.
"Ya, hitung-hitungan dia hidup mandiri. Di situ kan dia belajar relasi dengan orang lain, cara bertutur kata gitu. Sebagai orang tua mendoakan aja," tambahnya.
Hal serupa juga dirasakan Kartini, seorang penjual bubur yang berharap anaknya bisa belajar hidup mandiri selama di asrama.
"Ya karena di sini sendiri. Kalau di rumah, sama mama terus. Biar lebih mandiri," ujar Kartini.
Ia mengaku penghasilannya yang tidak menentu membuat program seperti Sekolah Rakyat sangat berarti. Kartini berharap pemerintah terus melanjutkan inisiatif ini agar anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa meraih pendidikan yang lebih baik.
Senin ini, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai secara serentak di 62 titik lokasi Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Sementara itu, 37 lokasi lainnya akan memulai MPLS pada akhir Juli 2025.
Baca Juga
Secara keseluruhan, ada 100 titik rintisan Sekolah Rakyat yang mulai beroperasi di Tahun Ajaran 2025/2026. Program ini merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). (Antara)
Berita Terkait
-
Mensos Tegaskan Pelaku Korupsi di Kemensos Bakal Dikejar hingga Pensiun
-
Nadiem Makarim Terharu Ratusan Sopir Ojol Padati Sidang Pleidoi Kasus Chromebook
-
Cegah Korupsi Program Sekolah Rakyat, Gus Ipul Konsultasi ke KPK
-
Mensos Bentuk Tim Khusus dan Gandeng KPK Usut Polemik Pengadaan Barang
-
Mensos: Angkatan Pertama Sekolah Rakyat Siap Luluskan 453 Siswa Tahun Ini
Terpopuler
-
Mensesneg Respons Usulan Menteri HAM soal Jabatan Sipil dalam Revisi UU Polri
-
Menkeu Purbaya Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bebani Fiskal Nasional
-
Melalui Lagu 'Aku Bisa', Rucky Markiano Bangkit dari Luka dan Keterpurukan
-
Kunjungan Wisman April 2026 Naik, Devisa RI Tembus Rp68 Triliun
-
John Herdman Bangga Mathew Baker Jadi Debutan Termuda Timnas Indonesia
Terkini
-
Mensesneg Respons Usulan Menteri HAM soal Jabatan Sipil dalam Revisi UU Polri
-
Menkeu Purbaya Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bebani Fiskal Nasional
-
Kunjungan Wisman April 2026 Naik, Devisa RI Tembus Rp68 Triliun
-
John Herdman Bangga Mathew Baker Jadi Debutan Termuda Timnas Indonesia
-
Tumbuh 34 Persen, Belanja Negara Mei 2026 Didorong Program Makan Bergizi Gratis dan Bansos