Matamata.com - Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Swiss untuk menghadiri World Economic Forum (WEF) 2026 membawa harapan besar bagi diaspora Indonesia. Kehadiran Kepala Negara di forum ekonomi global tersebut dinilai sebagai peluang emas untuk menjaring investasi berkualitas dan berkelanjutan.
Sakti Dava Alam Sulistyo, mahasiswa Indonesia di University of Zurich, menyatakan bahwa partisipasi Prabowo sangat krusial untuk membuka pintu kerja sama internasional yang lebih luas.
"Semoga kita bisa mendapatkan investasi yang bagus dan banyak, supaya kita bisa berkembang bersama dari segi sumber daya manusia, serta memanfaatkan sumber daya alam dengan lebih berkelanjutan (sustainable)," ujar Sakti melalui keterangan Tim Media Presiden, Kamis (22/1/2026).
Mahasiswa jurusan Bachelor of Business Administration ini juga menceritakan momen berkesannya saat menyapa Presiden menggunakan bahasa Jerman. "Saya menyampaikan Guten Abend (selamat malam) karena saya tahu Bapak bisa bahasa Jerman," tambahnya.
Senada dengan Sakti, Justin Anugrawi Ratomo, mahasiswa ETH Zurich, mengungkapkan rasa bangganya atas kehadiran Presiden Prabowo. Ia berharap kunjungan ini dapat memperkuat keterlibatan diaspora dalam pembangunan nasional.
"Peran diaspora, khususnya mahasiswa di luar negeri, dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi jangka panjang bangsa," tutur Justin.
Sebagai informasi, WEF 2026 mengusung tema "A Spirit of Dialogue". Forum ini menjadi panggung bagi 400 pemimpin politik tingkat tinggi, termasuk 65 kepala negara dan pemerintahan.
Selain Presiden Prabowo, sejumlah pemimpin dunia dijadwalkan hadir, antara lain Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, hingga Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Sebelum mendarat di Swiss, Presiden Prabowo telah menyelesaikan kunjungan kerjanya di London, Inggris, pada Rabu (21/1). Di London, ia melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Keir Starmer serta melakukan audiensi dengan Raja Inggris Charles III. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Gandeng WEF, Indonesia Siap Jadi Pusat Ekonomi Kelautan Dunia di OIS 2026
-
Kementerian ESDM Kaji Dampak Pencabutan Izin PLTA Batang Toru oleh Satgas PKH
-
Istana Ungkap Esensi 'Prabowonomics': Fokus pada Kedaulatan dan Swasembada Strategis
-
Di Davos, China Janjikan Dukungan Penuh untuk Perdagangan Bebas Global
-
Macron Tegaskan Uni Eropa Tak Ragu Gunakan Instrumen Anti-Paksaan Hadapi Ancaman Tarif AS
Terpopuler
-
Bahlil Tegaskan Produksi Batu Bara Tetap Dipangkas demi Dongkrak Harga dan Warisan Anak Cucu
-
Mendag Dorong Produsen Perbanyak 'Second Brand' Minyak Goreng untuk Hindari Kelangkaan
-
Menko AHY: Infrastruktur Harus Multifungsi, Tol Bisa Jadi Runway Darurat Jet Tempur
-
Pulihkan Sarana Pascabencana, Kemenag Kucurkan Ratusan Miliar untuk Madrasah dan Pesantren di Sumatera
-
Cegah Abrasi di Kuta hingga Candidasa, Jepang Garap Proyek Jumbo Rp1,08 T di Bali
Terkini
-
Bahlil Tegaskan Produksi Batu Bara Tetap Dipangkas demi Dongkrak Harga dan Warisan Anak Cucu
-
Mendag Dorong Produsen Perbanyak 'Second Brand' Minyak Goreng untuk Hindari Kelangkaan
-
Menko AHY: Infrastruktur Harus Multifungsi, Tol Bisa Jadi Runway Darurat Jet Tempur
-
Pulihkan Sarana Pascabencana, Kemenag Kucurkan Ratusan Miliar untuk Madrasah dan Pesantren di Sumatera
-
Cegah Abrasi di Kuta hingga Candidasa, Jepang Garap Proyek Jumbo Rp1,08 T di Bali