Matamata.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Mulyono (MUL), mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sumatera Utara, sebagai saksi dalam penyidikan dugaan korupsi proyek pembangunan jalan di wilayah tersebut.
“Pemeriksaan bertempat di Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sumut atas nama MUL, mantan Kadis PUPR Sumut,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (17/7).
Selain Mulyono, penyidik juga memanggil sejumlah saksi lainnya, antara lain staf Dinas PUPR Kabupaten Mandailing Natal berinisial WD, Kepala Seksi UPTD PUPR Gunung Tua Kabupaten Padang Lawas Utara RL, serta pemilik suku cadang kendaraan di Padangsidimpuan SG.
Beberapa staf lain yang turut diperiksa di antaranya AJ dari UPTD PUPR Gunung Tua, AMH selaku Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTR Kota Padangsidimpuan, staf Dinas PUTR Padangsidimpuan AA, serta MAR dari Dinas PUPR Mandailing Natal.
Dari informasi yang dihimpun, para saksi tersebut diketahui bernama Winda (WD), Ryan Lubis (RL), Andi Junaedi (AJ), Addi Mawardi Harahap (AMH), dan Abdul Azis (AA).
Pemeriksaan lanjutan juga dilakukan pada Selasa (15/7) terhadap sejumlah saksi penting lainnya, seperti Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumut nonaktif Stanley Cicero Haggard Tuapattinaja, Kepala Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Sumut nonaktif Dicky Erlangga, dan Bendahara BBPJN Sumut Said Safrizal.
Selain itu, turut diperiksa pejabat pembuat komitmen yang juga menjabat Kasatker PJN Wilayah II Sumut, Manaek Manalu, serta ASN bernama T. Rahmansyah Putra alias Dadam, dan mantan Kepala Dinas PUTR Padangsidimpuan, Ahmad Juni.
Pada Rabu (16/7), KPK kembali memanggil mantan Bupati Mandailing Natal Muhammad Jafar Sukhairi Nasution, Plt. Kadis PUPR Mandailing Natal Elpi Yanti Sari Harahap, anggota pokja PUPR Mandailing Natal berinisial NTL, serta pengurus rumah tangga berinisial ISB.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap jajaran dari dua perusahaan swasta, yaitu komisaris PT Dalihan Natolu Group (TFL), bendahara PT DNG (MRM), direktur sekaligus pemegang saham PT Rona Na Mora (MH), serta wakil direktur PT DNG (SAM).
Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan lima orang sebagai tersangka, yaitu Kepala Dinas PUPR Sumut Topan Obaja Putra Ginting (TOP), Kepala UPTD Gunung Tua Dinas PUPR Sumut sekaligus PPK Rasuli Efendi Siregar (RES), PPK di Satker PJN Wilayah I Sumut Heliyanto (HEL), Direktur Utama PT DNG M. Akhirun Efendi (KIR), dan Direktur PT RN M. Rayhan Dulasmi Piliang (RAY). (Antara)
Berita Terkait
-
KPK Ungkap Modus Gus Alex Intervensi Kebijakan 'Jalur Kilat' Daftar Haji
-
KPK Bongkar Modus Yaqut Terima Fee Percepatan Haji: Tarif Hingga Rp84 Juta per Jemaah
-
Prabowo di Nuzulul Qur'an: Korupsi Harus Dihilangkan, Itu Ajaran Agama
-
Kejagung Geledah Kantor Ombudsman RI dan Rumah Anggota Terkait Kasus Minyak Goreng
-
Vonis 15 Tahun dan Uang Pengganti Rp2,9 T, Anak Riza Chalid Ajukan Banding
Terpopuler
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun
Terkini
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun